JUSTICIA

Edison SH Ketua Masyarakat Adat Puncak: KLH Maling Teriak Maling

BOGOR – Reaksi elemen masyarakat kawasan Puncak terkait kondisi lingkungan dan alam yang rusak menjadi perhatian khusus Ketua Masyarakat Adat Puncak,Edison SH.

Bahkan motif dan modus dari dugaan para pelakunya tersistem seolah merupakan kebijakan program nasional yang dicanangkan namun ada dugaan lain atas kementerian kehutanan dan lingkungan diera Siti Nurbaya.

“Kasus yang ditangani KLH saat ini
baru di tanah PTPN Gunung Mas, sementara yang paling dahsyat mengirim bencana itu adalah perubahan-perubahan peruntukan yang namanya hutan produksi yang di bawah Perhutani dengan skema Kulin KK (program Pengakuan Perlindungan Kemitraan Kehutanan ).

Kulin KK adalah skema pengelolaan hutan berupa kerja sama antara masyarakat sekitar hutan dengan Perhutani, baik di hutan produksi maupun hutan lindung.

Masyarakat yang telah mengelola lahan Perhutani diizinkan mengajukan kerja sama kepada Perhutani sehingga aktivitas mereka menjadi legal.

Namun atas data dan fakta yang terjadi saat ini khusus dilahan 600 Ha lebih program ini telah terjadi alih fungsi lahan dan telah menganggu ekosistem alami pada pohon dan tanaman asli yang digantikan dan ditanam Kopi.

Hingga telah menelan korban nyawa atas dampak banjir dikawasan puncak sendiri.

Dimana secara dejure program ini
yang diberikan oleh KLH dalam program Kulin KK itu sangat dahsyat kita lihat dari beberapa kejadian itu titik terberat terparahnya adalah 600 hektar lahan yang berubah itu itu dikuasai bukan lagi oleh personal atau satu orang tetapi sudah beralih kepada sebuah perusahaan.

Dimana perusahaan menganggap dia punya kuasa lahan jadi dia merubah lahan itu untuk pakai apa saja.

Artinya dari fakta Yang ada bahwa kenyataan jadi tidak sesuai lagi dengan program awal dari KLH dengan pertanyaan besar adalah siapa yang bertanggung jawab itu .

Makanya kami selaku Ketua Masyarakat Adat Puncak,menganggap dan menduga bahwa KLH dianggap berpotensi menyumbang bencana banjir tersebut dengan programnya sendiri .

Tidak ada evaluasi atas program dari Kementerian itu yang berkaitan dengan Ulin KK, justru program ini berdampak atas tidak ada penyerapan dan tangkapan air yang bisa menimbulkan bencana dan banjir.

Padahal justru dilahan ini sekaligus merupakan daerah resapan yang amat penting bagi kelangsungan alam dan kelestarian serta keseimbangan lingkungan di kawasan Puncak .

Dimana tentu penyebab
bencana dan banjir itulah karena tidak meresap airnya dilahan Kulin KK, sebab karakteristik penanaman pohon Kopi ada tahanan air di wilayah itu seperti tanaman Kopi.

Karena tanaman kopi itu bukan akar serabut yang bisa menyerap air tapi Kopi itu akar tunjang.

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa KLH itu ya ,maling teriak maling ” tandas dia.

( Red03)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *