JUSTICIA

KEJAKSAAN KOTA SUKABUMI MUSNAHKAN BARANG BUKTI DOMINASI PERKARA NARKOBA

Sejumlah petugas Kejaksaan Kota Sukabumi, Jawa Barat, memusnahkan berbagai barang bukti dari berbagai perkara hukum dihalamam Kejaksaan Kota Sukabumi. (Selasa/21/6/2022).[ Sumber foto: Iqbal. S. Achmad.

SUKABUMI – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Sukabumi, Jawa Barat, memusnahan barang bukti (BB) yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (Inkracht) dalam tiga bulan terakhir, Selasa (21/6/2022).

Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Sukabumi, Taufan Zakaria mengatakan, pemusnahan barang bukti tersebut merupakan kegiatan triwulan sebagai upaya Kajari mewujudkan amanah zero tunggakan barang bukti (BB) agar terhindar dari kemungkinan terjadinya penyimpangan penyalahgunaan.

“Acara ini merupakan lanjutan dari pelaksanaan dari kegiatan triwulan kedua tahun ini. Sekaligus ini sebagai wujud publikasi kepada publik, kontrol sosial bahwa hari ini kita posisi kita kembali zero. Sambil menunggu perkara yang masih berjalan, ini adalah sisa-sisa penangan terakhir,” ucap Taufan.

Taufan menyebutkan, adapun barang bukti yang dimusnahkan diantaranya terdiri 39 perkara yaitu 29 perkara kasus narkotika jenis sabu-sabu 198,836 gram, ganja 5,776 gram, handphone 24 buah, dan timbangan digital 4 buah.

Taufan mengungkapkan, barang bukti yang dimusnahkan didominasi oleh kasus penyalahgunaan obat-obatan sebanyak 7 perkara melaui UU Kesehatan diantaranya, tramadol 928 butir, riklona 266 butir, heximer 2.530 butir, atarax alprazolam 1 mg 220 butir, handphone 4 buah. Serta sebuah senjata tajam.

Lebih lanjut Taufan mengatakan, kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari penyelesaian perkara, terdapat tiga hal yang menjadi fokus pada kegaitan pemusnahan barang bukti.

“Karena penyelesaian perkara itu bukan hanya mengeksekusi badan penjara benda ataupun subsider pembayaran uang perkara. Tetapi juga status barang bukti ini bagian dari penyelesaian perkara. Jadi tiga hal ini diantaranya, untuk mengantisipasi penyalahgunaan juga nantinya. Juga sebagai wujud tujuan dari reformasi birokrasi kita dalam meningkatkan kinerja transparansi kepada publik, ”Lanjutnya.

Taufan menjelaskan dihadapan awak media, tentang pemahaman terkait penggunaan jenis obat-obatan peredaran tertentu kepada masyarakat, yang terimplikasi pada Undang-Undang pidana, masih sangat minim.

“Para pelaku ini banyak kategori remaja, bahkan banyak yang masih sekolah. Jadi disini ada wujud kepedulian juga tanggungjawab bersama secara moralitas, bagaimana pemahaman UU kesehatan itu berimplikasi hukum pidana, “Jelas Taufan.

Taufan menegaskan, dalam peredaran narkoba, pihak Kejaksaan, bekerjasama dengan Pemerintah Kota Sukabumi, khususnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, dan pihak terkait, dalam menekan penyalahgunaan obat-obatan.

“Karena itu kita ada program bersama dengan Pemerintah Koota dalam hal ini mungkin Dinkes. Beberapa waktu lalu juga kita melakuakn kegiatan bersama dalam rangka operasi prokes. Sasarannya kita mendatangi tempat-tempat penjualan obat, dan kita meneliti bukti keluar penerimaan resep. Karena penyedia obat itu bukan hanya apotik, toko obat biasa pun bisa menjadi sasaran para pelaku ini untuk memperoleh barang-barang itu,”Tandasnya. (Iqbal. S. Achmad)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.