Wakil Ketua DPRD Kab Bogor Agus Salim Minta MBG di Evaluasi Total dan Komisi IV Dewan Lakukan Pengawasan

BOGOR – Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bogor, Agus Salim, menyoroti ketidaksesuaian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada bulan Ramadan, sehingga memicu keluhan dari orang tua murid dan masyarakat. Sebagai koordinator Komisi IV, ia juga berencana menginstruksikan Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor untuk membantu pengawasan penyaluran MBG di satuan pendidikan.
“Memang penyaluran MBG ini yang pertama kalinya dilakukan saat bulan puasa. Namun, karena adanya laporan dan keluhan, seharusnya segera dilakukan evaluasi, saya akui, bahwa domain pengawasan program MBG berada di bawah wewenang Pemerintah Pusat, bukan Pemerintah Daerah. Namun, karena menyangkut kepentingan masyarakat lokal, DPRD tidak akan tinggal diam,” ujar Agus Salim kepada awak media, Senin (2/3/2026).
“Meskipun ini domain Pusat, penerima manfaatnya adalah anak-anak kita semua. Kami akan melakukan pengecekan dan membantu komunikasi agar penyaluran MBG ini dievaluasi. Sebagai koordinator Komisi IV, saya juga berencana menginstruksikan Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor untuk membantu pengawasan penyaluran MBG di satuan pendidikan.” imbuhnya.

Menurut Agus yang juga Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, pihaknya akan koordinasikan dengan Komisi IV agar melakukan pengawasan. Ini harus menjadi bahan evaluasi bagi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Agus juga meminta Pemerintah Daerah lebih terbuka dalam menerima masukan masyarakat agar hak penerima program MBG benar-benar terpenuhi. Jangan sampai hak anak-anak justru berkurang di bulan Ramadan ini.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, Jawa Barat dr. Fusia Mediawaty angkat bicara mengenai menu penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikeluhkan orang tua murid dan masyarakat pada bulan Ramadan 1447 Hijriah ini. Menurutnya bahwa menu yang disalurkan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah sesuai dengan standar gizi.
“Di sana ada roti. Mungkin mereka tidak tahu bahwa ada kandungan protein di dalam kacang juga, lalu ada telur dan susu,” kata dr. Fusia, kemarin. Meski demikian, ia mengaku akan menindaklanjuti keluhan orang tua murid terkait menu MBG yang disalurkan oleh dapur SPPG kepada sekolah-sekolah di Kabupaten Bogor. Nanti akan kami cek kembali,” 5tandasnya .

Diberitakan sebelumnya, berdasarkan pantauan di lapangan, paket MBG di SDN Tunggilis Cileungsi hanya berisi satu butir telur rebus, satu buah jeruk, satu bungkus agar-agar, dan keripik tempe. Sementara itu, paket di SDN Cipayung 02 Cibinong terdiri atas susu kotak ukuran 110 ml, roti, dan pisang. Di SDN Bojong Kulur, paket yang dibagikan berupa roti, jeruk, dan kacang.
Salah satu orang tua murid, Rani, mengeluhkan kualitas menu tersebut. Ia mempertanyakan kelayakan paket itu disebut sebagai makanan bergizi. Penyaluran MBG di awal Ramadan ini tidak sesuai harapan. Jika dihitung, nilainya tidak sebanding dengan anggaran yang seharusny.
Menanggapi hal tersebut, pengamat kebijakan publik, Yusfitriadi, menilai program unggulan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini seolah dipaksakan meski persiapannya belum matang. Menurutnya, program yang memiliki tujuan mulia ini justru menimbulkan banyak persoalan di lapangan.
“Sebelum Ramadan saja sudah banyak masalah. Sekarang saat Ramadan, terlihat sekali program ini dipaksakan. Implementasinya justru memicu berbagai persoalan. Saya melihat bahwa masalah muncul mulai dari standar nutrisi yang tidak terpenuhi hingga potensi kerugian negara,” jelasnya.
Program ini berisiko menjadi ‘bancakan’ elite politik lokal. Selain menghamburkan biaya, gizi yang diberikan pun tidak memenuhi standar. Oleh karena itu, saya mendesak agar penyaluran MBG di daerah, khususnya di Kabupaten Bogor, mendapatkan sorotan tajam dari publik agar program pusat tidak rusak akibat implementasi yang acak-acakan,” pungkas Yufitriadi.
Diketahui sebelumnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan. Kali ini, kritik pedas datang dari seorang dokter sekaligus ahli gizi, dr. Tan Shot Yen, yang menilai penyajian menu MBG di beberapa daerah justru melenceng dari tujuan awalnya. Dengan tegas ia mempertanyakan terkait konsep menu yang dibagikan kepada anak-anak.
Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI pada Senin (22/9/2025), dr. Tan menyampaikan keprihatinannya terhadap menu MBG yang menyajikan olahan seperti burger, spageti, hingga chicken katsu. Menurutnya, sajian tersebut tidak sesuai dengan semangat pemenuhan gizi anak bangsa, melainkan lebih menekankan pada tampilan yang dianggap menarik.
“Alih-alih mendapatkan makanan dengan gizi tinggi, anak-anak justru diberikan makanan fast food seperti burger, spageti, bakmi, dan tepung-tepungan lain. Akhirnya apa ini, mau sampai kapan makannya burger, gitu, lo. Ya, jadi saya setuju bahwa ada anak yang tidak suka dengan pangan lokal karena mereka tidak terbiasa, tapi bukan berarti lalu request anak-anak lalu dijawab oleh dapur, ya wislah…. Kalau request-nya cilok? Mati kita,” ujar dr Tan, Senin (22/9/2025).
Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum adalah dokter dan ahli gizi masyarakat terkemuka di Indonesia yang vokal menyuarakan pentingnya pangan lokal, pola makan sehat, serta edukasi gizi untuk mencegah stunting. Ia aktif mengedukasi melalui media sosial, seminar, dan buku, serta baru-baru ini mengkritik menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai kurang berbasis kearifan lokal.(Ahp)



