TPS Sentul City Gagal Kelola Sampah Organik, Warga dan Pekerja Dirugikan

BOGOR – Salah satu Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di kawasan elite Sentul City, Bogor, kini tengah disorot akibat kegagalan dalam menangani sampah organik. Pengelolaan yang berada di bawah tanggung jawab PT Xaviera Global Synergy, selaku pengelola Bank Sampah Benteng Kreasi binaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dinilai belum berjalan sesuai harapan.
Meskipun berada di bawah naungan program lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, kenyataannya pengelolaan sampah yang diterapkan justru memunculkan berbagai persoalan. Penumpukan sampah organik kian mengkhawatirkan, tanpa adanya solusi konkret. Bahkan, upaya membuangnya ke TPS Galuga ditolak karena permasalahan administrasi.

Menurut salah satu karyawan yang tidak ingin disebutkan namanya (D), masalah internal perusahaan semakin memperparah kondisi.
“Upah kami jauh dari UMR Kabupaten Bogor, itu pun sering telat. Alasannya selalu tidak ada uang,”* ujarnya.
Tak hanya itu, banyak armada pengangkut sampah yang belum dibayar sesuai dengan invoice yang telah disepakati. Hal ini bahkan menyebabkan pemilik armada menutup akses jalan ke TPS sebagai bentuk protes.

Ironisnya, visi misi PT Xaviera Global Synergy yang seharusnya sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, khususnya prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), tidak terealisasi di lapangan. Proses daur ulang dan pengelolaan di sumber tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Saat dikonfirmasi, Founder PT Xaviera Global Synergy, yang dikenal publik dengan inisial Wilda dan dijuluki sebagai “Ratu Sampah” serta “Pemulung Intelektual”, justru memberikan respons yang mengejutkan.
“Silakan kalau Anda mau membawa ke proses hukum. Saya tidak suka diancam. Tidak semua urusan selesai di polisi, tidak semua urusan selesai dengan media, paham?” tegasnya kepada tim Indonesia News Cover (INC).
Padahal, Wilda adalah sosok yang pernah menerima penghargaan bergengsi Awen Award dari ASEAN Women Entrepreneur Network, yang semestinya memiliki pemahaman kuat terhadap manajemen administrasi dan hak-hak pekerja.
Persoalan ini mengundang perhatian publik, mengingat pentingnya pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Sentul City yang dikenal sebagai kawasan modern dan tertata, kini justru terancam oleh krisis pengelolaan sampah yang bisa berdampak luas, baik secara lingkungan maupun sosial. (Red.02)



