Gerakan Pangan Murah Hadir di Cikahuripan, Ringankan Beban Warga di Tengah Harga Sembako yang Terus Naik

BOGOR — Ketika harga kebutuhan pokok perlahan menggerus daya beli masyarakat, hadirnya pangan dengan harga lebih terjangkau menjadi angin segar bagi warga.
Hal itu terlihat dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) bertema “Dalam Rangka Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP)” yang digelar di halaman belakang Klinik Anggi, Desa Cikahuripan, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Selasa (15/9/2026).
Gerakan tersebut menyasar masyarakat Desa Cikahuripan dan sekitarnya sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang kini harus menghadapi kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok.
Bagi masyarakat, pangan murah bukan sekadar kegiatan seremonial. Di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan, selisih harga beberapa ribu rupiah sekalipun memiliki arti besar bagi keluarga.

Terlebih bagi ibu rumah tangga yang setiap hari harus mengatur pengeluaran untuk beras, minyak goreng, dan berbagai kebutuhan dapur lainnya.
“Kegiatan ini diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, agar kebutuhan pokok bisa diperoleh dengan harga yang lebih terjangkau,” demikian semangat yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Kegiatan pangan murah itu turut mendapat dukungan dari Pemilik Klinik Anggi, Anggiat Lamiduk Manosor, yang menyediakan lahan parkir di belakang klinik untuk menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan.

Dukungan tersebut dinilai menjadi bagian dari kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat, bukan hanya dalam bidang kesehatan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi warga.
Anggiat Lamiduk Manosor mengatakan, masyarakat Desa Cikahuripan, Kecamatan Klapanunggal, hingga Desa Bojong yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat memanfaatkan layanan di Klinik Anggi, termasuk dengan menggunakan kartu BPJS maupun KIS sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia juga menegaskan bahwa pelayanan kepada pasien harus menjadi prioritas.

Menurut dia, apabila ada masyarakat yang mengalami persoalan terkait pelayanan kesehatan di Klinik Anggi, warga dipersilakan menyampaikannya secara langsung agar dapat segera ditangani.
“Kalau masyarakat mengalami persoalan pelayanan kesehatan di Klinik Anggi, bisa bertemu dengan saya. Kita selesaikan secepatnya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap warga tidak berhenti pada pelayanan medis. Ketika masyarakat menghadapi persoalan kebutuhan pokok, ruang dan fasilitas juga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung.

Gerakan Pangan Murah tersebut turut dihadiri Sekretaris Desa Cikahuripan Encin, perwakilan staf Kecamatan Klapanunggal, Ketua BPD Cikahuripan Dwi Suprapto, Anggiat Lamiduk Manosor, Ketua Bumdes Minta beserta jajaran, serta unsur Linmas.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ketahanan pangan tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja.
Pemerintah, organisasi sosial, pemerintah desa, dunia usaha maupun masyarakat perlu bergerak bersama agar gejolak harga pangan tidak semakin menekan keluarga berpenghasilan rendah.
Di sisi lain, IPSM Kecamatan Klapanunggal berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan jumlah dan jenis bahan pokok yang lebih banyak.
Misniasari atau Wa Mis mendorong agar Gerakan Pangan Murah tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Ketersediaan komoditas murah perlu diperluas sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak masyarakat di Kecamatan Klapanunggal.
Kondisi harga kebutuhan pokok yang menjadi perhatian masyarakat juga diharapkan mendapat perhatian lebih serius dari Pemerintah Kabupaten Bogor.
IPSM Kecamatan Klapanunggal berharap Bupati Bogor Rudy Susmanto dapat memberikan perhatian terhadap keberlanjutan program pangan murah, termasuk memperluas jumlah bahan pokok yang disediakan.
Sebab, persoalan pangan bukan hanya soal harga di pasar.
Di balik kenaikan harga beras, minyak goreng, dan kebutuhan dapur lainnya, ada keluarga yang harus kembali menghitung pengeluaran. Ada ibu rumah tangga yang harus mengurangi belanja. Ada pula masyarakat yang terpaksa menunda kebutuhan lain agar dapur tetap mengepul.
Karena itu, Gerakan Pangan Murah diharapkan tidak sekadar menjadi pasar murah sehari.
Ia harus menjadi bentuk nyata kehadiran pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga daya beli warga.
Ketika harga pangan naik, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar imbauan. Mereka membutuhkan kebijakan yang terasa, pasokan yang tersedia, dan harga yang benar-benar terjangkau.
Gerakan kecil di halaman belakang Klinik Anggi itu pun menjadi pengingat: kepedulian terhadap masyarakat dapat dimulai dari hal sederhana—membuka ruang, menyediakan pangan terjangkau, dan memastikan warga tidak berjalan sendirian menghadapi tekanan ekonomi.(AG)



