Video Dugaan Pemukulan Petugas Parkir di Grand Kahuripan Viral
Kades Gonon: “Saya Tak Terima Warga Saya Diperlakukan Begitu”

Persoalan Uang Parkir Rp2.000 Berujung Keributan? Danramil Klapanunggal Pastikan Ada Pertemuan untuk Klarifikasi
BOGOR — Sebuah video yang beredar di media sosial TikTok mendadak menjadi perhatian warga Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.
Video tersebut memperlihatkan keributan antara seorang pria yang tampak mengenakan seragam yang disebut dalam narasi sebagai seragam TNI dengan sejumlah warga di kawasan Ruko Grand Kahuripan, Jumat (2/10/2026).
Dalam narasi yang menyertai video, peristiwa tersebut disebut berkaitan dengan dugaan pemukulan terhadap seorang petugas parkir yang merupakan warga Desa Klapanunggal.
Namun, hingga berita ini ditulis, kronologi lengkap kejadian dan identitas seluruh pihak yang terlibat belum dapat diverifikasi secara independen.
Yang jelas, rekaman video telah memicu perhatian publik.
Terlebih, persoalan tersebut disebut melibatkan warga setempat yang sehari-hari bekerja sebagai petugas parkir.

“Jangan Mukul, Pak! Jangan Emosi”
Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang pria mengenakan seragam yang disebut sebagai seragam TNI berada di tengah situasi tegang dengan sejumlah warga.
Suasana terdengar memanas.
Seorang perempuan kemudian terdengar berusaha melerai.
“Jangan mukul, Pak! … jangan emosi,” ujar perempuan tersebut dalam rekaman.
Suara perempuan itu menjadi bagian penting dalam video karena memperlihatkan adanya upaya untuk menghentikan ketegangan yang terjadi di lokasi.
Dalam rekaman berikutnya, pria tersebut terdengar memberikan penjelasan mengenai persoalan yang disebut telah terjadi sebelumnya.

“Ini udah tiga minggu yang lalu, udah dua bulan yang lalu! Kamu boleh jaga di sini, tapi diajak ngomong kok kayak gini-gini,” demikian ucapan yang terdengar dalam video.
Kalimat tersebut mengindikasikan bahwa persoalan antara pihak yang terlibat diduga bukan baru terjadi pada hari itu.
Namun, apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa sebelumnya masih membutuhkan klarifikasi dari seluruh pihak.
Narasi yang menyertai video menyebut seorang petugas parkir menjadi korban dugaan kekerasan.
Disebutkan pula, seorang perempuan sempat berusaha melerai dugaan pemukulan tersebut. Namun, dalam narasi video, perempuan itu disebut justru mendapat bentakan.
Klaim tersebut belum dapat dipastikan secara independen dan perlu diklarifikasi kepada pihak yang berada di lokasi maupun pihak yang disebut dalam rekaman.
Hal inilah yang membuat kasus tersebut tidak cukup hanya dilihat dari potongan video berdurasi singkat.
Sebab, sebuah rekaman dapat memperlihatkan momen tertentu, tetapi belum tentu menggambarkan keseluruhan rangkaian peristiwa sebelum dan sesudah kejadian.
Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian Kepala Desa Klapanunggal Ade Endang Saripudin, yang akrab disapa Kades Gonon.
Ade menemui sejumlah pemuda yang disebut sebagai korban atau pihak yang berada di lokasi kejadian.
Pertemuan tersebut dilakukan di rumah Kades Gonon.
Ade menanyakan kondisi mereka sekaligus menyampaikan sikapnya terhadap dugaan kekerasan yang menimpa warga Desa Klapanunggal.
Dalam rekaman yang beredar, Ade terdengar menyampaikan kemarahannya menggunakan bahasa Sunda.
“Aing teu terima aing warga aing digebugan kieu mah!”
Pernyataan tersebut secara substansi menunjukkan bahwa Ade menyatakan keberatan apabila benar terdapat warga Desa Klapanunggal yang mengalami kekerasan.
Ade juga menyatakan biaya pengobatan akan ditanggung olehnya.
Yang membuat persoalan ini semakin menjadi perhatian adalah munculnya nominal Rp2.000 dalam percakapan.
Ade mempertanyakan persoalan yang disebut berkaitan dengan aktivitas parkir.
“Duit 2.000, 2.000 ku batang tubuh tentara?” ujar Ade dalam rekaman.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling banyak mendapat perhatian dalam video.
Namun, nominal tersebut perlu ditempatkan secara hati-hati karena konteks lengkap mengenai pembayaran parkir, pihak yang menarik, dasar penarikan, dan persoalan yang mendahului keributan belum terungkap secara utuh.
Dengan kata lain, Rp2.000 bukan inti persoalannya sebelum fakta lengkap mengenai konflik tersebut dipastikan.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perselisihan tersebut dapat diselesaikan tanpa kekerasan dan melalui mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Anak-anak Parkiran Desa Klapanunggal”
Dalam video lainnya, Ade menyebut para pemuda tersebut merupakan warga yang sehari-hari bekerja sebagai petugas parkir di kawasan ruko.
“Ini adalah anak-anak parkiran Desa Klapanunggal … kesehariannya cuma bisa markir,” ujar Ade.
Ade kemudian mengajak para pemuda tersebut makan bersama sekaligus memberikan dukungan.
Sikap tersebut disebut sebagai bentuk perhatian pemerintah desa terhadap warga yang berada dalam persoalan tersebut.
Persoalan itu juga disebut telah disampaikan kepada pihak Danramil Klapanunggal.
Untuk mendapatkan keberimbangan informasi, wartawan Tipikor Investigasi menghubungi Danramil 0621-04/Klapanunggal, yang saat ini dijabat Kapten Inf/Kav La Ahmadin, yang juga dikenal dengan sejumlah sapaan seperti La Ahmadin, Laode Ahmadin atau Rocky.
Melalui pesan WhatsApp kepada wartawan, Danramil menyampaikan bahwa komunikasi dengan pihak yang bersangkutan telah dilakukan.
“Sudah komunikasi oleh pihak bersangkutan, sekarang sedang latihan di Bandung, dari Angkatan Laut, Senin (5/10/2026) akan bertemu di kantor Danramil Klapanunggal,” demikian keterangan yang disampaikan.
Pertemuan tersebut menjadi penting untuk membuka persoalan secara lebih terang.
Bukan untuk menghakimi siapa yang benar atau salah sebelum seluruh fakta diperiksa, tetapi untuk memastikan persoalan yang berkembang di masyarakat tidak berujung pada kesalahpahaman yang semakin besar.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana sebuah rekaman singkat dapat dengan cepat menyebar dan membentuk persepsi publik.
Tetapi video viral tidak otomatis menjadi bukti lengkap atas seluruh kejadian.
Masih ada sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab.
Apa yang sebenarnya terjadi sebelum kamera merekam?
Apakah benar terjadi pemukulan terhadap petugas parkir?
Siapa yang pertama kali melakukan tindakan fisik, jika memang terjadi?
Apa latar belakang persoalan antara petugas parkir dan pria yang disebut mengenakan seragam TNI tersebut?
Bagaimana status pengelolaan parkir di kawasan ruko tersebut?
Kepada siapa uang parkir Rp2.000 disetorkan?
Apakah terdapat aturan atau kesepakatan mengenai aktivitas parkir di lokasi tersebut?
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah seluruh pihak telah memberikan keterangan kepada aparat untuk menjernihkan persoalan?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting agar kasus tidak berhenti pada potongan video dan narasi media sosial.
Bagi warga Klapanunggal, persoalan ini bukan sekadar keributan di kawasan ruko.
Ada warga yang disebut menjadi petugas parkir.
Ada dugaan tindakan kekerasan.
Ada seseorang yang disebut mengenakan seragam TNI.
Ada persoalan uang parkir Rp2.000.
Dan ada video yang kini menyebar luas di media sosial.
Semua unsur tersebut membuat persoalan perlu diselesaikan secara terang dan proporsional.
Jika memang terdapat tindakan kekerasan, mekanisme hukum harus menjadi jalan penyelesaiannya.
Jika terdapat kesalahpahaman, klarifikasi terbuka harus dilakukan.
Jika persoalannya berkaitan dengan pengelolaan parkir, maka aturan dan kewenangan pengelolaan parkir juga perlu diperjelas.
Yang paling penting, jangan sampai persoalan kecil berkembang menjadi konflik besar hanya karena informasi yang belum lengkap.
Pertemuan yang direncanakan di Kantor Danramil Klapanunggal pada Senin (5/10/2026) menjadi momentum penting untuk memperjelas persoalan tersebut.
Publik tentu menunggu hasil komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat.
Apakah persoalan tersebut benar merupakan tindakan kekerasan?
Ataukah terdapat rangkaian persoalan lain yang belum terekam kamera?
Jawabannya harus berasal dari fakta, keterangan para pihak, dan proses klarifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Satu hal yang pasti, warga berhak mendapatkan rasa aman, sementara setiap pihak juga berhak memperoleh kesempatan untuk memberikan penjelasan sebelum kesimpulan dibuat.
Karena di tengah derasnya arus video viral, yang paling sulit bukan membuat sebuah rekaman menjadi tontonan.(AG)



