PENDIDIKAN

Atap Sekolah Di Kabupaten Bogor Makan Tumbal, Setelah SMKN Cileungsi Kini SMKN Gunung Putri

BOGOR – Bagai keledai jatuh pada lubang yang sama.

Atas adanya peristiwa terulang kembali yakni atap sekolah rubah hingga korban luka pada siswa yang sedang belajar tentu ini amat menyahat hati.

Dibalik faktor alam tentu tidak bisa juga ini dianggap biasa karena faktor alam atau bencana.

Namun tentu atas spek dan kualitas atap yang digunakan untuk pembangunan atap sekolah perlu juga diselidiki APH baik Kejaksaan dan juga kepolisian atas kemungkinan adanya pengurangan kualitas spek baja atap sekolah disemua lapisan dikabupaten Bogor.

Sebab baru saja pada bulan September SMKN di wilayah timur ,yakni SMKN Cileungsi mengalami hal yang mirip dan sama.

“Ya hari ini kembali terjadi di level SMKN masih diwilayah Timur Kabupaten Bogor,setelah pada bulan September terjadi atap ambruk juga di SMKN Cileungsi mungkin juga pada bulan lainya kedepan akan kembali terjadi ditempat lainnya hal yang sama.

Ini perlu diungkap dan diselidiki aparat hukum ,dengan pendalaman dan pengembangan apakah ada unsur indikasi permainan atas pekerjaan proyek bangunan ditiap sekolah hingga atap itu tidak sesuai kualitas bisa ambruk” tegas Gustapol Maher,sekjen Forum kajian TARUNA pada media ,Selasa (4/11).

“Baru saja hal sama terjadi pada bulan September lalu ada total 31 orang terluka akibat atap salah satu SMK di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, ambruk. Dari 31 orang tersebut, sebanyak 29 orang merupakan siswa.

Dan Siswa (dirawat) di (Rumah Sakit) MH Thamrin 26, di (Rumah Sakit) Mary tiga waktu itu.

Dimana para siswa yang terluka terdiri dari kelas X hingga kelas XII dengan berbagai jurusan.

Dan hal serupa kembali terjadi kemarin ,Senin ( 13/11) di SMKN Gunung Putri.

Kami selaku elemen kontrol pemerintah meminta pihak dinas pendidikan baik pemerintah daerah Propinsi dan Kabupaten Bogor dapat pula memanggil kepala sekolah dan para pejabat yang terlibat dalam pembangunan sekolah baik SD,SMP dan level SMA/ SMK untuk didata dan dievakuasi mutu dan kualitas bangunan mereka.

Jangan sampai anak siswa didik dapat menjadi korban atau tumbal diatas kepentingan segelintir orang meraup untung pada proyek pembangunan yang tidak sesuai spek dan kualitas” tegas Gustapol.

Sementara itu diketahui,
atap ruang kelas ambruk ketika hujan deras sekitar pukul 14.00 WIB. Saat kejadian,ada siswa yang sedang belajar.

” Ya betul ,kejadian ada siswa yang sedang belajar.

Cuma yang dari tiga kelas itu, ada satu kelas yang sedang pemeriksaan kesehatan, jadi kosong.

Jadi cuma dua kelas yang sedang ada yang belajar.

Kejadiannya pas hujan deras sekitar jam 14.00-an,” kata sumber media.

Dikatakan Sumber, sejumlah siswa mengalami luka akibat tertimpa material atap yang ambruk.

Saat ini, korban luka sudah dievakuasi ke rumah sakit.

“Ada korban luka empat orang sementara ini, ada yang patah tulang, ada yang luka lainnya.

Itu kelas XI yang ambruknya, yang lukanya. Yang korban luka sudah dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Tampak dalam foto dan video beredar bahwa atap bangunan kelas ambruk.

Besi-besi rangka bangunan dan atap tampak berserakan.

Peristiwa itu tampak terjadi ketika hujan deras.

Dalam video juga terlihat sejumlah siswa sedang berada di sekitar lokasi menyaksikan bangunan kelas yang ambruk.

Tim BPBD dan relawan saat ini sudah mendatangi lokasi dan melakukan asesmen. Sejumlah korban luka sudah dibawa ke rumah sakit.

“Betul, tim sudah ke lokasi. Korban sudah dievakuasi ke rumah sakit. Untuk jumlah korban masih didata, kurang lebih segitu (di atas 10 orang). Untuk lokasi sudah diamankan, bangunan ambruknya belum dievakuasi,” kata Kepala Tim Logistik BPBD Kabupaten Bogor Andi Sumardi.

( Red03)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *