PENDIDIKAN

SISWA SDN CILOMA BELAJAR DILANTAI, ATAP GEDUNG SMPN 4 CIBITUNG SATU ATAP TANPA TERSISA

Kondisi prorses belajar mengajar Siswa SD Negeri Ciloma, dilantai, gedungnya sekolah menyisahkan satu ruangan kelas. (Sabtu/12/11/22). ] Sumber foto: Iqbal. S. Achmad.

SUKABUMI – Kondisi gedung SD Negeri Ciloma dan SMP Negeri 4 Cibitung Satuatap, di Kampung Ciloma, Desa Cibitung, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sunggu memprihatinkan. Pasalnya, SD Negeri Ciloma hanya menyiahkan dua ruangan yaitu, ruangan kelas dan kantor untuk tempat belajar dari 71 siswanya. Sementara gedung utama SMP Negeri 4 Cibitung Satuatap, memiliki siswa sebanyak 50 siswa, atapnya sama sekali tidak memilki atap.

Menurut pengajar SD Negeri Ciloma, Latif Maulana mengatakan, gedung SDN Ciloma, mengalami kerusakan sejak tahun 2020 diakibat hama dan cuaca buruk menyerang gedung sekolah. Disebutkan Latif, kondisi gedung sekolah yang dibangun pada tahun 1984, hanya menyisahkan dua ruangan untuk belajar. Itupun harus digilir sesuai tingkatan kelas.

Gedung SMP Negeri 4 Cibitung Satuatap tanpa atap, menyisahkan bangunan tidak terawat. (Sabtu/12/11/22). ] Sumber foto: Iqbal. S. Achmad.

“Untuk konidis sekolah saat ini bisa dilihat keadaannya sangat memprihatinkan. Kondisi sekolah rusak Ini sudah tahun 2020. Penyebabnya dimakan Rayab dengan hujan mungkin juga banyak bolong – bolong menjadi mudah lapuk. Untuk kelas yang masih digunakan saat ini yaitu satu ruangan kelas, belajarnya digilir bergantian. Untuk saat ini siswanya 71,”Sebutnya.

Dikeluhkan, kondisi fasilitas sekolah dan jumlah pengajar saat ini, serta proses pelaksanaan belajar mengajar. Adapun diungkapkan Latif, pihak sekolah sudah pernah mengajukan kepihak terkait, serta akses para guru dan sebagian siswanya menuju sekolah, harus menempuh perjalanan mengarungi sungai Cikaso, tempat habitat hewan buas seperti Buaya muara.

“Kondisi fasilitasnya sudah tidak layak digunakan untuk bangku dan kursinya dan mejanya. Jumlah gurunya ada tiga orang. Kalau satu kelas masih bisa gunakan bangku, kalau diruangan kantor karena kursi kurang jadi dibawah (lantai) saja belajarnya. Kalau kepemerintah pusat mungkin ada, cuma sampai sekarang belum teralisasikan. Untuk siswa ada berangkat dari seberang menggunakan perahu, begitu juga gurunya dari seberang, kalau mau pergi mengajar harus naik perahu, kalau perjalan ada satu jam. Pada saat banjir semua libur, kami mengutamakan keselamatan. Kalau hewan buas jenis buaya, “Keluhnya.

Sela, siswi kelas 6 SD Negeri Ciloma mengaku, ia bersama teman-temannya tiap hari harus waspada dengan kondisi ruangan kelas, khawatir suatu waktu atapnya ambruk menimpa mereka, dan berharap ada perhatian pemerintah.

“Atapnya bocor-bocor, kalau hujan banjir, kalau atapnya takut ambruk. Kepada pemerinta kami meminta agar sekolah kami diperbaikan biar nyaman belajar, “Harapnya.

Sementara itu, pengajar SMP Negeri 4 Cibitung Satuatap, Budiman menuturkan, gedung sekolah yang ditempati sekarang belajar mengajar, dibangun pada tahun 2013, merupakan dana hibah dari negara Australia, kini kondisinya mulai alami kerusakan lantaran dibangunan diatas urukan tanah hingga menyebabkan sejumlah lantai ruangan amblas serta atapnya alami kebocoran.

“Ini yang pertama dibangun pada tahun 2013 dari hibah negara Austarlia, mumgkin pada waktu itu kepala sekolahnya Nariyanto, sampai saat ini masih berdiri kokoh. Mungkin sakarang lantai keramik pada hancur karena atapnya itu pada musim angin kencang atapnya berterbangan dan sebagian keramik dibawahnya mulau retak-retak karena mungkin ada pergeseran tanah karena dibangunnya tanah urukan sehingga berdiri seperti ini,”Tuturnya.

Masih kata Budiman, sementara gedung utama sekolah (SMPN 4 Cibitung Satuatap),kondisinya sangat memprihatinkan. Bahkan semua ruangannya sama sekali tidak memiliki atap serta ditumbuhi tanaman liar. Sedang siswanya sebagian berasal dari perkampungan lain untuk bersekolah harus mengarungi sungai Cikaso menggunakan perahu.

“Untuk sekolah yang rusak berdiri dari tahun 2006, waktu itu kepala sekolahnya sama dengan SD dan SMP, mulai hancurnya ketika musibah gempa bumi agak besar beberapa tahun lalu akibat kayunya yang sudah lapuk sebagian kena air hujan dan rayab sehingga secara perlahan banguannya ambruk sendiri . Siswanya berasal dari daerah Kadudahung, Ciloma, dan Tegalbuleud (Kecamatan Tegalbuleud), tentunya menyeberang sungai Ckaso. Setiap pagi mereka berangkat menggunakan perahu. Jumlah siswa ada 50 orang. Jumlah perahu untuk SMP ada 2,”Kesan Budiman.

Diakui Budiman, dalam kondisi gedung sekolah rusak, terdapat sejumlah siswa SMK Bina Bangsa 1 Surade, ditempati belajar lantaran di Kecamatan Cibitung tidak memiliki gedung SMA sederajat.

“Untuk sementara ini ada dari sekolah lain menumpang belajar SMP 4 Cibitung Satu atap yaitu SMK Bina Bangsa 1 Surade siswanya semangat juga setiap pagi ada dan gurunya diperbantukan dari SD. Mereka sekolah disini karena keadaan mengenai biaya, mereka ke sekolah yang lain sangat jauh sekali karena mengenai akses jalan yang sulit. Sementara disini tidak ada SMA, untuk warga disini khusus untuk melanjutkan SMA, masih kesulitan, “Tandasnya.

Vina, Sisiw kelas 11 SMK Bina Bangsa 1 Surade mengaku, ia terpaksa belajar di gedung milik SMP Negeri 4 Cibitung Satuatap, dikarenakan akses menuju ke Kecamatan Surade melalui sungai Cikaso, memakan biaya 100 ribu Rupiha, satu kali perjalanan.

“Jauh dari sini, kalau sehari seratus (100 ribu) dari Surade, harus menyeberang sungai, ga bisa kesana. Inginnya ada sekolah (SMA) disini. Yang daftar banyak cuma yang datang sedikit cuma yang hadir empat orang. Ada yang kos di Surade,”Keluhnya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *