RAGAM

Jalan Utama Jembatan Kedep Dibongkar Total

Warga Nambo–Tlajung Udik Rela Antre Lewati Jembatan Gantung Demi Keselamatan

BOGOR – Pembongkaran total Jalan Utama Jembatan Kedep di ruas Jalan Provinsi Jawa Barat resmi dimulai sejak Senin (13/7/2026). Penutupan akses utama yang menghubungkan Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal dengan Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, membuat ribuan warga harus beradaptasi dengan jalur penyeberangan sementara berupa jembatan gantung khusus pejalan kaki di buka hari Selasa (14/7/2026).

Jembatan gantung sementara tersebut hanya memperbolehkan maksimal 10 orang berada di atasnya dalam satu waktu. Akibatnya, warga dari kedua arah harus rela mengantre untuk menyeberang setiap hari.

Pemandangan antrean warga, mulai dari pelajar, pekerja, hingga orang tua, kini menjadi rutinitas baru sejak proyek pembangunan dimulai. Meski harus menunggu giliran, sebagian besar masyarakat memilih mematuhi aturan demi menjaga keselamatan bersama.

Petugas yang ditempatkan di kedua sisi jembatan terus mengatur arus penyeberangan agar tidak terjadi penumpukan di tengah bentang jembatan. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengantisipasi risiko yang dapat membahayakan pengguna apabila kapasitas jembatan terlampaui.

Menjawab pertanyaan masyarakat terkait alasan pembatasan tersebut, Manajer Kontraktor, Maman, memberikan penjelasan saat dikonfirmasi melalui WhatsApp pada Kamis (16/7/2026).

Menurut Maman, kapasitas maksimal 10 orang merupakan hasil kajian teknis yang telah diperhitungkan secara matang bersama tim teknisi proyek.

“Berdasarkan perhitungan kekuatan jembatan sementara atau jembatan gantung, kapasitasnya dibatasi maksimal 10 orang. Apabila satu orang memiliki berat sekitar 50 kilogram, maka saat berada di tengah bentang jembatan sepanjang kurang lebih 35 meter akan timbul beban yang telah diperhitungkan oleh tim teknis. Dengan jumlah maksimal 10 orang, beban tersebut masih berada dalam batas aman untuk menjaga kekuatan konstruksi jembatan sementara,” jelas Maman.

Ia menegaskan bahwa pembatasan tersebut bukan untuk mempersulit masyarakat, melainkan demi menjaga keselamatan seluruh pengguna selama proses pembangunan Jembatan Kedep berlangsung.

“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Karena itu kami menempatkan petugas di kedua sisi jembatan untuk mengatur giliran penyeberangan, baik dari arah Desa Nambo maupun dari arah Desa Tlajung Udik,” ujarnya.

Menurutnya, sistem pengaturan tersebut merupakan hasil koordinasi antara pihak kontraktor, tim teknisi, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta pihak-pihak terkait yang menangani pembangunan jembatan.

Selain menjaga keselamatan pejalan kaki, pembatasan kapasitas juga bertujuan memperpanjang usia pakai jembatan gantung sementara agar tetap aman digunakan hingga proyek pembangunan Jalan Jembatan Kedep selesai.

Meski harus mengantre setiap hari, masyarakat berharap proses pembangunan dapat berjalan sesuai jadwal sehingga akses utama penghubung kedua wilayah segera kembali normal.

Jalan Utama Jembatan Kedep selama ini menjadi salah satu jalur vital yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas masyarakat. Karena itu, penyelesaian proyek tersebut diharapkan mampu menghadirkan infrastruktur yang lebih kuat, aman, dan mampu melayani kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Selama masa pembangunan, pemerintah dan pihak kontraktor mengimbau seluruh masyarakat untuk mematuhi arahan petugas, tidak memaksakan menyeberang saat kapasitas jembatan telah terpenuhi, serta mengutamakan keselamatan dibanding terburu-buru mencapai tujuan.(Agung Dwi S)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *