TOP NEWS

Honorer Dipecat Angga Klarifikasi Terkait Pengurusan Sertifikat Tergantung “Rezeki Macan, Rezeki Ayam”

BOGOR – Didampingi dua orang pimpinan salah satu media, honorer dipecat Tomy Angga klarifikasi terkait adanya pemberitaan cepat lambatnya pengurusan Sertifikat tergantung “Rezeki Macan, Rezeki Ayam”.

Klarifikasi yang dilakukan oleh yang didampingi rekannya yang jug honorer Ali yang juga dipecat dilakukan disalah satu kafe tidak jauh dari stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa sore (0807/26) kemaren.

Menurutnya, ia salah satu honorer yang dipecat bersama puluhan honorer lainnya, bahkan dirinya bersama beberapa rekan honorer yang terlebih dahulu dipecat sebelum puluhan tenaga honor lainnya menyusul dipecat.

“Saya salah satu honorer yang dipecat bersama puluhan honorer lainnya, bahkan saya bersama beberapa rekan saya yang juga honorer yang terlebih dahulu dipecat sebelum puluhan tenaga honor lainnya menyusul dipecat,” ujarnya.

“Adanya pemberitaan terkait cepat lambatnya pengurusan sertifikat tergantung Rezeki Macan, Rezeki Ayam, saya tidak tau, sebab saya hanya tukang ketik, dalam pelayanan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” imbuh Angga.

Dijelaskannya, dia membenarkan bahwa dirinya bertugas di bagian SK, tapi kenapa dalam pemberitayang juga minta namanya an percepatan penyelesaian permohonan sertifikat tergantung rezeki macan, rezeki ayam menyebut namanya yang ditulis jelas.

Atas pertanyaan yang diajukan tersebut, awak media ini menerangkan, namanya muncul dari nara sumber yang layak dipercaya di Kantor Pertanahan yang minta namanya dirahasiakan. Dan sejumlah pemohon sertifikat yang juga minta nya dirahasiakan, Kamis (2/7/27) yang ditemui terpisah di Kantor Pertanahn tersebut.

Nara sumber yang dipercaya itu mengatakan, Angga sudah dipecat terlebih dahulu, maka sudah tidak masuk kantor. Saat awak media ini bertanya apa ada yang punya nomor kontak atau alamatnya, mau konfirmasi, nara sumbr itu menjawab tidak punya, baik nomor kontak maupun alamat rumahnya.

“Angga sudah dipecat, sudah tidak masuk kantor, klo mau konfirmasi tidak tau harus nemui dimana, saya tidak punya nomor kontak atau alamatnya” tandasnya Kamis itu di Kantor Pertanahan Bogor1, Cibinong.

Diberitakan sebelumnya Percepatan pelayanan permohonan sertifikat diduga kuat tergantung pada “Rezeki Macan dan Rezeki Ayam”, demikian dikatakan oleh sejumlah pemohon sertifikat yang minta namanya dirahasiakan di Kantor ATR/BPN Bogor 1 Cibinong, Kabupaten Jawa Barat, Kamis (02/07/26) kemaren.

“Percepatan pelayanan permohonan sertifikat, apapun jenis dan bentuk sertifikatnya diduga kuat tergantung pada “Rezeki Macan dan Rezeki Ayam”,” ujar pemohon sertifikat, Steven (bukan nama sebenarnya) ke awak media ini.

“Isitlah tidak tertulis tersebut, sudah bukan rahasia lagi bagi kalangan pemohon sertifikat, apapun jenis sertifikatnya, apakah itu Hak Guna Bangunan, Hak Milik, pemecahan, peningkatan hak atau penurunan,” imbuh Steven.

Sementara menurut pemohon lainnya, Ronald (bukan nama sebenarnya) istilah tersebut muncul dan dipraktekan sebagai bagian dari pelayanan oleh para petugas dengan status honorer, karena merasa masih tenaga honor, sehingga tidak ada beban, ketika perbuatannya itu secara tidak sadar telah membebani pemohon dari segi biaya.

Katanya, praktek koruptif dan gratifikatif tersebut sudah berlangsung lama, bahkan merupakan bagian tidak terpisahkan. Padahal, apa yang dilakukan itu bentuk perbuatan melawan hokum (PMH) dengan cara menyalahkan gunakan wewenang atau kedudukan untuk memperkaya diri, badan atau orang lain.

“Uang hasil korupsi dan atau gratifikasi itu mengalir ke atas atau tidak, tidak jelas, yang pasti apa yang telah terjadi tersebut dilekuhkan oleh para pemohon, “ imbuh pemohon Christhian (bukan nama sebenarnya).

 “Sehingga, tidak mengherankan jika ditemukan ada pemohon yang marah-marah, sebab sertifikat tak kunjung jadi, padahal semua syarat dan ketentuan telah dipenuhi, termasuk “rezeki”,” tandasnya di temui terpisah di kantah tersebut.

Ketiga pemohon, Steven, Ronald dan Cristhian, ditemui Kamis itu sepakat menyebutkan bahwa rezeki macan dan rezeki ayam terdapat pada semua lini pelayanan, dimana terdapat tenaga honor yang juga berperan sebagai calo..

Sebagai contoh pada pelayanan Surat Keputusan dan Penetapan, petugas honornya disebut sebut bernama Angga. Honorer itu dikenal dan sudah bukan rahasia lagi memiliki rezeki macan, hal itu dapat dilihat pada penampilan kendaraan yang digunakan sehari-hari. Padahal, honor petugas honor hanya Rp1,5 juta per bulan.

Sementara menurut sumber yang layak di percaya, nasib para petugas honor sebanyak 72 orang, kini nasibnya tinggal menghitung hari. karena harus diberhentikan. Sebab, tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlalu.

“Negara tidak menganggarkan tenaga honor, tapi terdapat puluhan tenaga honor tentu jadi pertanyaan honornya dari mana, jangan-jangan dari hasil korupsi dan gratifikasi,” tandas sumber yang juga adalah ASN tersebut.

Sebagaimana diberitakan media ini kemaren, Diduga bermaksud untuk memojokan Kepala Kantor (Kakan) ATR/BPN Pertanahan (Kantah), Bogor 1, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sontang Coin Manurung, oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) ATR/BPN melapor terdapat puluhan tenaga berstatus Honorer di Kantah Bogor 1.

Adalah oknum ASN Agung yang diduga telah melaporkan hal itu ke Inspektorat Kementerian ATR/BPN RI. Buntut laporannya, Kakan Sontang lalu diperiksa Inspektorat, tapi buntut lainnya adalah puluhan tenaga honor di Kantah bogor 1 tersebut diberhentikan per 2 Juli 2026, setelah 72 tenaga honor dikumpulkan di Aula Kantah Bogor 1.

Menurut sumber yang layak dipercaya, namun minta dirahsiakan, sebut saja Irfan (bukan nama sebenarnya), Agung semula juga merupakan tenaga di Kantah Bogor 1, Cibinong, setelah dinyatakan lolos dan dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), ASN Agung lantas di mutasi ke Kantah 2, Cileungsi, Kab Bogor.

“Adalah oknum ASN Agung yang diduga telah melaporkan hal itu ke Inspektorat Kementerian ATR/BPN RI. Buntut laporannya, Kakan Sontang lalu diperiksa Inspektorat,” ujarnya Selasa, (1/7/26) di Cibinong 

“Tak hanya itu, buntut lainnya dari laporan itu, adalah puluhan tenaga honor di Kantah Bogor 1 tersebut diberhentikan per 1 Juli 2026, setelah 72 tenaga honor dikumpulkan di Aula Kantah Bogor 1, pada Selasa itu,” tambah Irfan.

Dikatakannya, dengan diberhentikan puluhan tenaga honor, hal tersebut akan sangat berpengaruh besar dalam pelayanan. Dan bakal terjadi, bahkan dapat dipastikan terdapat dan terjadi tumpukan berkas permohonan sertifikat. Selain dari pada itu juga dapat dipastikan terdapat dan terjadi penambahan tunggakan penyelesaian permohonan.

Diterangkan Irfan, selama ini, meski telah terdapat beberapa kali pergantian Kepala Kantor ATR/BPN Pertanahan Bogor 1, tetap saja terdapat tunggakan penyelesaian permohon sertifikat yang jumlahnya mencapai belasan ribu. Padahal, ucap dia saat itu terdapat banyak tenaga honor yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

Sementara menurut sumber lain sebut saja Bayu (bukan nama sebenarnya), bukan hanya terdapat tunggakan penyelesaian permohon sertifikat yang jumlahnya mencapai belasan ribu. Tapi juga, terdapat banyak berkas permohonan sertifikat yang hilang. Sehingga, menyulitkan dalam pengurusan dan penyelesaiannya.

Sementa itu, Kepala Kantor Pertanahan Bogor 1 Sontang Coin Manurung yang hendak dikonfirmasi, Kamis itu belum berhasil dikonfirmasi. Menurut Ajudan Syarif, Pak Kakan tidak di tempat, sedang keluar.(Ahp)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *