RAGAM

DESTANA Cikahuripan 2025 Resmi Dikukuhkan

Warga Dilatih Siaga Hadapi Bencana Tanpa Menunggu Bantuan

BOGOR — Suasana haru dan penuh semangat memenuhi aula SMK Klapanunggal pada Sabtu pagi ketika puluhan perangkat desa, relawan, serta perwakilan masyarakat Desa Cikahuripan resmi dikukuhkan sebagai bagian dari Desa Tangguh Bencana (DESTANA) Tahun Anggaran 2025. Kegiatan yang didanai dari Dana Desa ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum penting bagi Cikahuripan untuk bangkit dan lebih siap menghadapi ancaman bencana yang terus menghantui wilayahnya.

Pelatihan dan pengukuhan ini dihadiri langsung oleh Kepala Desa Cikahuripan, Andi Upi, Sekretaris Desa Encin, Kecamatan Klapanunggal, Hari, jajaran perangkat RT/RW, para Kadus, Babinsa Ade Sopandi, Bhabinkamtibmas Wisnu, Ketua BPD Dwi Suprapto beserta anggota, staf desa, Satgas Limas, Karang Taruna, LPM, Posyandu, PKK, dan IPSM. Mereka berkumpul dengan satu tujuan: membangun desa yang benar-benar siaga dan mampu bergerak cepat tanpa harus menunggu bantuan dari luar.

Instruktur pelatihan berasal dari BPBD Kabupaten Bogor, yaitu Ananta Eka N., Adi, Topan, dan Edi, yang memberikan materi langsung di hadapan para peserta.

Dalam sambutannya, Kades Andi Upi menegaskan betapa pentingnya pelatihan ini. Ia mengingatkan bahwa bencana—khususnya banjir yang kerap melanda perumahan-perumahan di Cikahuripan—tidak bisa lagi dianggap enteng.

“Saya minta seluruh perangkat desa, dari RT, RW, Kadus hingga Limas, benar-benar memperhatikan instruktur dari BPBD. Kita harus tahu tindakan cepat jika bencana datang, baik teori maupun praktik. Jangan menunggu bantuan dari desa atau pihak lain. Setiap kampung dan perumahan harus punya kemampuan tanggap daruratnya sendiri,” tegas Andi Upi dengan suara mantap yang disambut anggukan para peserta.

Kepala desa juga menekankan bahwa DESTANA bukan hanya program tahunan, tetapi investasi keselamatan bagi seluruh warga.

Instruktur BPBD, Adi, menyampaikan materi yang sangat menyentuh para peserta. Ia mengingatkan kembali kejadian banjir yang baru-baru ini menerjang beberapa perumahan di Cikahuripan. Banyak warga panik, beberapa sedang sakit, dan akses bantuan terhambat.

“Saat banjir kemarin, beberapa rumah warga tergenang, dan ada korban yang sedang sakit. Jika perangkat perumahan tidak sigap, akibatnya bisa fatal. Pelatihan ini bukan formalitas. Ini soal nyawa,” ucap Adi dengan tegas.

Instruktur lainnya, Ananta Eka, memaparkan bahwa ada tiga jenis bencana yang wajib dipahami masyarakat:

  1. Bencana Alam — seperti banjir, tanah longsor, gempa.
  2. Bencana Non-Alam — termasuk kebakaran, kecelakaan industri, dan wabah.
  3. Bencana Sosial — konflik masyarakat, kerusuhan, dan sebagainya.

“Ketiganya bisa terjadi kapan saja. Tanpa kesiapsiagaan, desa akan selalu kalah,” ujar Ananta.

Sesi yang paling emosional terjadi ketika peserta mengikuti simulasi penanganan korban banjir. Para RT, RW, Kadus, dan anggota Limas tampak serius saat belajar teknik membawa korban, memetakan titik evakuasi, hingga mengoperasikan peralatan darurat yang baru saja diadakan dari Dana Desa 2025.

Beberapa peserta tampak gugup, namun antusias. Terlihat jelas semangat untuk berubah demi keselamatan warga.

Dengan pengukuhan DESTANA 2025 ini, Desa Cikahuripan menegaskan diri sebagai desa yang siap bergerak cepat, berani, dan peduli terhadap keselamatan warganya. Program ini bukan hanya pelatihan, tetapi langkah nyata agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban karena kelalaian atau keterlambatan penanganan.

Pelatihan ini menumbuhkan satu pesan kuat:

“Ketika bencana datang, warga Cikahuripan tidak lagi menunggu—tetapi bergerak.”(Agung DS)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *