Dari Jalan Alternatif ke Santunan, Pengelola Jembatan Kedep Salurkan 320 Paket untuk Yatim dan Lansia

BOGOR – Di tengah perbaikan Jalan Utama Kedep yang membuat arus kendaraan harus mencari jalur alternatif, muncul cerita lain yang menyentuh dari sebuah jembatan alternatif di perbatasan Kampung Kedep dan Kampung Walahir.
Para pengelola dan pekerja sukarela di jalur alternatif Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, menggelar kegiatan santunan untuk anak yatim piatu, ibu lanjut usia (lansia), dan orang tua pada Jumat siang.
Kegiatan yang berlangsung di jembatan alternatif Desa Nambo, Kampung Kedep, tepatnya wilayah RT 01 dan RT 02/RW 01, Dusun 1, Desa Nambo, tersebut diisi dengan penyaluran 320 paket santunan.

Setiap penerima mendapatkan santunan sebesar Rp50.000. Selain itu, bantuan juga diberikan untuk kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat, masing-masing sebesar Rp1 juta untuk kegiatan Maulid di masjid-masjid Kampung Kedep, Rp1 juta untuk kegiatan peringatan 17 Agustus, serta Rp1 juta untuk para asatidz.
Kegiatan tersebut dikoordinasikan Acep Kusnadi, selaku koordinator santunan sekaligus koordinator jalur alternatif. Sejumlah tokoh dan unsur pemerintahan turut hadir, di antaranya Sekretaris Desa Nambo, Babinsa Nambo Iwan Setiawan, Ketua LPM Tlajungudik Nurdin, serta para sepuh dari Desa Nambo dan Desa Tlajungudik.

Bagi masyarakat setempat, santunan tersebut bukan sekadar pemberian uang. Di baliknya terdapat aktivitas sosial yang selama ini berjalan bersamaan dengan pengaturan lalu lintas kendaraan di jembatan alternatif.
Acep Kusnadi menjelaskan, dana yang disalurkan dalam kegiatan santunan tersebut berasal dari pemberian sukarela pengguna kendaraan bermotor yang melintasi jalan alternatif selama Jalan Utama Kedep masih dalam proses perbaikan oleh pihak kontraktor.

Menurut Acep, para pekerja yang membantu mengatur kendaraan di jalur tersebut bekerja secara sukarela, baik pada pagi, siang maupun malam hari.
Ia membantah adanya praktik pemaksaan atau penentuan nominal kepada pengguna kendaraan.
“Kami bekerja secara sukarela. Tidak ada pungutan paksa dan tidak ada nominal yang kami tentukan kepada pengendara. Pemberian dari pengguna kendaraan dilakukan secara ikhlas dan kemudian kami salurkan kembali untuk kepentingan masyarakat, khususnya anak yatim piatu, lansia dan orang tua,” ujar Acep.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi klarifikasi atas informasi yang menurutnya sempat beredar di masyarakat mengenai dugaan adanya permintaan paksa, pungutan liar, atau penentuan nominal kepada pengguna jalan.
Acep menegaskan, pihaknya tidak pernah memaksa pengendara untuk memberikan uang.
“Kalau ada berita yang menyebut kami meminta secara paksa, melakukan pungli atau menentukan nominal, itu tidak benar. Kami hanya membantu mengatur kendaraan agar jalur alternatif bisa dilalui dengan aman dan tertib,” katanya.
Meski demikian, ia menyadari pentingnya keterbukaan dalam pengelolaan pemberian sukarela tersebut. Karena itu, menurut Acep, dana yang terkumpul kemudian disalurkan dalam bentuk santunan dan bantuan sosial agar manfaatnya dapat kembali dirasakan masyarakat sekitar.
Keberadaan jalur alternatif tersebut ternyata juga memberikan dampak sosial lain.
Sejumlah warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan ikut dilibatkan dalam membantu pengaturan arus kendaraan. Mereka secara bergantian berada di sekitar jembatan untuk memastikan kendaraan dapat melintas dengan tertib.
Acep mengatakan, aktivitas tersebut setidaknya membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk memperoleh penghasilan sekaligus berkontribusi terhadap kelancaran lalu lintas.
“Selain membantu pengaturan jalan alternatif, kegiatan ini juga membantu warga yang sebelumnya menganggur mendapatkan pekerjaan. Mereka ikut mengatur kendaraan agar lalu lintas di jembatan alternatif berjalan lancar dan tertib,” ujarnya.
Pengaturan tersebut dilakukan setelah adanya koordinasi dengan pemerintah Desa Nambo dan Desa Tlajungudik, serta aparat kepolisian setempat.
Koordinasi tersebut dinilai penting mengingat jalur alternatif berada di kawasan yang menjadi akses masyarakat dari dua wilayah desa.
Keselamatan pengguna jalan menjadi perhatian utama dalam pengoperasian jembatan alternatif tersebut.
Acep mengatakan, ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, jalur alternatif akan ditutup sementara.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kondisi jalan yang berpotensi membahayakan pengendara, sekaligus mencegah terjadinya kecelakaan maupun kejadian yang tidak diinginkan.
“Kalau cuaca hujan besar, jalan alternatif ini kami tutup sementara. Keselamatan pengguna jalan yang paling utama. Jangan sampai karena ingin mengejar kelancaran lalu lintas, justru terjadi kecelakaan,” tegasnya.
Santunan 320 penerima yang disalurkan dari aktivitas di jalan alternatif tersebut memberikan gambaran lain tentang bagaimana sebuah persoalan infrastruktur dapat melahirkan gerakan sosial di tengah masyarakat.
Perbaikan Jalan Utama Kedep memang membuat masyarakat harus menggunakan jalur alternatif. Namun, di tengah kondisi tersebut, warga dan para pekerja sukarela berusaha menjaga agar mobilitas tetap berjalan.
Kini, sebagian pemberian sukarela dari pengguna kendaraan dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk santunan bagi mereka yang membutuhkan.
Dari anak yatim piatu, ibu lansia, orang tua, kegiatan keagamaan, hingga para asatidz, bantuan tersebut diharapkan menjadi bentuk kepedulian sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat di sekitar perbatasan Desa Nambo dan Desa Tlajungudik.
Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketika sebuah jalan sedang diperbaiki, jalan kepedulian jangan sampai ikut ditutup.
Sebab, kelancaran kendaraan hanya menyelesaikan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi kepedulian yang disalurkan kepada sesama dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang di tengah masyarakat.(Agung Dwi S)



