JUSTICIA

Presiden Mahasiswa ITB Dewantara Muhammad RF Prihatin Terjadinya Demo Anarkis

BOGOR – Presiden Mahasiswa ITB Dewantara, Kabupaten Bogor, Muhammad Raihan Fauzi prihatin adanya demo disertai pengrusakan, penjarahan dan pembakaran gedung dewan serta fasilitas umum. Keprihatinan itu disampaikan melalui rilis yang dikirim ke redaksi media ini, Senin (1/9/25).

“Aksi yang semestinya menjadi ruang penyampaian aspirasi secara damai, perlahan bergeser menjadi situasi yang penuh ketegangan akibat minimnya komunikasi terbuka, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dan banyak nya oknum yang menebar provokasi,” ujarnya.

“Memanasnya situasi pun tak lain karena banyaknya oknum aparat keamanan yang bertindak berlebihan dan melakukan refresifitas kepada massa aksi, dan tentunya kami mengecam segala bentuk refresifitas aparat keamanan,” imbuh  Fauzi.

Menurutnya, kondisi memanasnya situasi massa aksi saat ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya ketegangan antara  mahasiswa, masyarakat sipil, driver ojek online dan aparat keamanan. Aksi yang direncanakan sebagai bentuk penyampaian aspirasi damai.

Dengan cepat, jelas Fauzi, berkembang menjadi situasi yang penuh tekanan akibat komunikasi yang kurang efektif, isu-isu sensitif yang belum terselesaikan, serta respons yang dianggap kurang proporsional dari pihak berwenang.

Ditegaskannya, bahwa perjuangan mahasiswa adalah perjuangan moral, intelektual, dan kemanusiaan, bukan perpecahan. Berhenti sejenak bukan berarti menyerah atas kezhaliman. Akan tetapi, untuk mengatur ulang strategi untuk perlawanan yang lebih panjang dan relevan.

“Dan saya ingin menghimbau kepada seluruh elemen baik mahasiswa atau masyarakat untuk lebih selektif dan tidak terprovokasi dengan seruan aksi demonstrasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab, yang menginginkan kericuhan dan mengambil keuntungan,” tandas Fauzi.

“Dan kami akan tetap selalu ada di garda terdepan sebagai mitra kritis pemerintah. Mari kita saling jaga antar warga negara, jangan mudah terprovokasi dan bijak dalam menerima informasi yang belum jelas kebenarannya,” tambahnya. 

Sebagaimana diketahui, pada 25 Agustus 2025, telah terjadi unjuk rasa besar pada 25-29 Agustus 2025 yang berakhir ricuh. Jatuhnya korban jiwa akibat kekerasan aparat kepolisian memperburuk situasi, menyebabkan aksi unjuk rasa menyebar ke berbagai wilayah.

Hingga Jumat (29/8) demonstrasi massa masih berlangsung di sejumlah tempat. Hari ini menandai hari pertama eskalasi aksi unjuk rasa usai meninggalnya seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, karena ditabrak dan dilindas mobil rantis Brimob, Kamis malam (28/8/25).

Sebelumnya, rangkaian demonstrasi massa yang terjadi sejak Senin (25/8) terjadi dalam momentum merebaknya isu besaran gaji dan tunjangan anggota DPR yang jadi perbincangan publik.

Pasca penyelenggaraan HUT ke-80 RI pada 17 Agustus 2025, isu besaran gaji dan tunjangan DPR RI bergulir. Masyarakat merasa besaran gaji dan tunjangan para anggota dewan dinilai terlalu berlebihan.

Kemudian, menjelang Senin (25/8), seruan untuk menyelenggarakan demonstrasi massa menuntut pembubaran DPR RI beredar luas di internet. Di media sosial, ajakan untuk turun ke jalan disebarkan akun berpengikut ribuan. Aksi massa pun terjadi hingga Senin (1/9/25).(Ahp)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *