Cegah Stunting Sejak Dini, Desa Bojong Perkuat Peran Posyandu dan Edukasi Ibu Hamil

BOGOR — Persoalan stunting tidak bisa menunggu sampai anak mengalami gangguan pertumbuhan. Pencegahan harus dimulai sejak ibu mengandung, bahkan melalui pengetahuan dan perhatian keluarga terhadap kesehatan ibu dan anak.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Rembuk Stunting bertema “Pencegahan dan Penanganan Stunting” yang digelar Pemerintah Desa Bojong, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jumat (28/8/2026).
Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Desa Bojong dan dihadiri Ibu Kades Bojong Marni, S.K.M., M.M. selaku TP PKK Desa Bojong, Kepala Puskesmas Bojong, Babinsa, Pendamping Desa, jajaran PKK serta para petugas Posyandu Desa Bojong.
Rembuk tersebut secara khusus membahas kesehatan ibu hamil, bayi dan balita, termasuk pentingnya deteksi dini terhadap persoalan pertumbuhan dan pemenuhan gizi anak.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan penyuluhan mengenai berbagai aspek kesehatan ibu dan anak.
Pembahasan mencakup penanganan kesehatan ibu selama kehamilan, masa setelah melahirkan dan menyusui, perkembangan gizi bayi dan balita, hingga langkah yang perlu dilakukan kader Posyandu ketika menemukan indikasi persoalan kesehatan.

Persoalan KB setelah melahirkan, termasuk penggunaan alat kontrasepsi seperti spiral, juga menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat.
Pengetahuan tersebut dinilai penting agar ibu tidak mengambil keputusan tanpa mendapatkan informasi dan pendampingan dari tenaga kesehatan.
Ibu Kades Bojong Marni, S.K.M., M.M., menekankan agar masyarakat tidak mengabaikan kondisi kesehatan ibu dan anak.
Menurutnya, ibu hamil harus mendapatkan perhatian sejak masa kehamilan hingga setelah melahirkan dan menyusui. Begitu pula dengan bayi dan balita yang membutuhkan pemantauan pertumbuhan secara rutin.
“Ibu-ibu masyarakat Desa Bojong harus menjaga dan memperhatikan kesehatan, baik saat hamil, setelah melahirkan maupun saat menyusui. Begitu juga kesehatan bayinya,” ujar Marni.

Ia meminta masyarakat segera berkonsultasi apabila menemukan kondisi yang tidak diinginkan.
“Kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, segera datang kepada petugas PKK atau Posyandu. Bisa juga langsung ke Puskesmas agar secepatnya mendapatkan penanganan. Jangan sampai terlambat,” katanya.
Menurut Marni, pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Kader PKK dan Posyandu tidak hanya bertugas melakukan penimbangan, tetapi juga harus memiliki pengetahuan untuk memberikan edukasi dan mengarahkan masyarakat ketika membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Pemerintah Desa Bojong juga mendorong agar edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak tidak hanya dilakukan di kantor desa.
Penyuluhan dan pemantauan diharapkan terus dilakukan hingga tingkat RT sehingga kondisi ibu hamil, bayi dan balita dapat diketahui secara berkala.
Setiap bulan, pemeriksaan rutin dilakukan melalui kegiatan Posyandu, termasuk penimbangan bayi dan balita serta pemeriksaan bagi ibu hamil.
Langkah tersebut menjadi penting karena perubahan kondisi kesehatan anak sering kali terjadi secara bertahap.
Ketika pertumbuhan anak mulai mengalami hambatan dan tidak terpantau, penanganan bisa menjadi lebih sulit.
Karena itu, prinsip yang ditekankan dalam rembuk tersebut sederhana: lebih baik mencegah dan menemukan persoalan sejak dini daripada menunggu kondisi menjadi berat.
Rembuk Stunting Desa Bojong juga memperlihatkan bahwa persoalan tumbuh kembang anak bukan semata-mata tanggung jawab tenaga kesehatan.
Orang tua, kader Posyandu, PKK, pemerintah desa, Puskesmas dan masyarakat memiliki peran masing-masing.
Orang tua harus aktif memperhatikan kesehatan dan asupan gizi anak. Kader harus rutin melakukan pemantauan. Pemerintah desa harus mendukung program kesehatan. Sementara tenaga kesehatan memberikan pemeriksaan serta penanganan sesuai kebutuhan.
Jika seluruh unsur tersebut berjalan bersama, persoalan stunting dapat dicegah lebih awal.
Sebaliknya, ketika satu pihak lengah, risiko terhadap tumbuh kembang anak dapat semakin besar.
Rembuk Stunting di Desa Bojong akhirnya bukan sekadar kegiatan penyuluhan.
Di balik pembahasan mengenai ibu hamil, KB, bayi, balita dan Posyandu, terdapat satu tujuan besar: memastikan anak-anak Desa Bojong mendapatkan kesempatan tumbuh sehat sejak awal kehidupannya.
Sebab, masa depan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan jalan, gedung maupun fasilitas fisik.
Masa depan juga ditentukan oleh kualitas generasi yang tumbuh di dalamnya.
Jangan menunggu stunting menjadi masalah besar. Pantau sejak kehamilan, perhatikan gizi, rutin ke Posyandu, dan segera cari pertolongan ketika ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan.
Karena ketika menyangkut kesehatan ibu dan anak, terlambat bertindak bisa berarti kehilangan kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan mereka.(Agung Dwi S)



