498 Pemuda Akar Desa Indonesia Bergerak, Galang Bantuan Untuk Korban Banjir Sumatera

JAKARTA — Di tengah duka banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sebuah kabar harapan datang dari akar rumput desa. Akar Desa Indonesia mengumumkan keberhasilan menghimpun 498 pemuda desa dari berbagai provinsi hanya dalam waktu tiga hari untuk membantu ribuan korban banjir yang kehilangan rumah, akses pangan, dan sumber penghidupan.
Banjir besar yang terjadi pada akhir pekan lalu merendam permukiman, merusak fasilitas publik, dan memutus jalur kehidupan masyarakat. Namun di tengah keterpurukan itu, pemuda desa kembali membuktikan bahwa solidaritas bukan sekadar slogan, tetapi napas perjuangan yang hidup di setiap desa Indonesia.
Ketua Umum Akar Desa Indonesia, Rifqi Nuril Huda, menyampaikan bahwa gerakan ini lahir dari kesadaran kolektif, bukan instruksi organisasi.
“Saya melihat sendiri bagaimana jejaring pemuda desa dari banyak provinsi bergerak spontan. Dalam tiga hari, mereka mengumpulkan logistik pangan, pakaian, obat-obatan, hingga dukungan transportasi untuk menjangkau wilayah terdampak,” ungkapnya.
Beberapa kelompok relawan bahkan membangun dapur umum, pos pemulihan psikososial, dan pendampingan bagi anak-anak serta lansia di lokasi pengungsian. Gerakan ini berjalan bergotong royong tanpa pamrih, memperlihatkan bahwa pemuda desa adalah garda terdepan kemanusiaan.
Akar Desa Indonesia menegaskan bahwa banjir kali ini adalah refleksi dari kerentanan ekologis yang makin melebar:
- rusaknya tutupan hutan,
- lemahnya tata kelola sungai,
- meningkatnya eksploitasi ekstraktif.
Pemuda desa memahami persoalan ekologis bukan dari teori, melainkan dari pengalaman hidup: bertani, menjaga sumber air, dan hidup berdampingan dengan alam. Karena itu, gerakan kemanusiaan mereka juga membawa pesan ekologis yang kuat.
“Bencana ini adalah alarm keras bahwa pembangunan nasional harus kembali memprioritaskan keberlanjutan lingkungan,” tegas Rifqi.
Akar Desa Indonesia memastikan bahwa seluruh proses distribusi bantuan dilakukan dengan prinsip:
cepat, tepat sasaran, transparan, dan berpihak pada kelompok paling rentan.
Setiap pengiriman logistik, dana, dan pergerakan relawan dicatat dan dipublikasikan ke jejaring pemuda desa dan mitra yang terlibat. Bantuan diprioritaskan untuk:
- perempuan dan ibu dengan balita,
- anak-anak,
- penyandang disabilitas,
- petani yang kehilangan lahan garapan.
Dari asesmen lapangan, banyak pemuda desa menyampaikan keprihatinan bahwa:
- bencana makin sering,
- mitigasi lemah,
- desa kurang dilibatkan dalam perencanaan pembangunan.
Mereka meminta pemerintah daerah dan pusat memperkuat kapasitas desa dalam menghadapi ancaman perubahan iklim, membuka ruang kolaborasi, dan memperbaiki tata kelola lingkungan secara menyeluruh.
Gerakan 498 pemuda desa dalam tiga hari ini menjadi bukti bahwa:
Desa bukan objek pembangunan. Desa adalah sumber energi moral bangsa.
Di saat banyak isu nasional dipenuhi konflik politik, pemuda desa justru memilih berada di garis depan kemanusiaan — merawat nilai persatuan, kepedulian, dan keadilan sosial.
“Masa depan ketahanan iklim dan ketahanan pangan bangsa ini sangat ditentukan oleh kekuatan pemuda desa,” ujar Rifqi.
Rifqi menyampaikan terima kasih mendalam kepada seluruh pemuda desa, masyarakat umum, donatur, dan mitra komunitas yang terlibat.
Akar Desa Indonesia berkomitmen untuk:
- terus memperkuat kapasitas pemuda desa,
- mengawal isu ekologi,
- memperluas gerakan gotong royong desa,
- dan memastikan desa tangguh menghadapi krisis di masa depan.
“Banjir di Sumatera adalah duka kita bersama. Dan gerakan besar ini adalah komitmen kami untuk selalu berdiri bersama rakyat dalam keadaan apa pun.”
— Rifqi Nuril Huda
Ketua Umum Akar Desa Indonesia.
(Agung DS)



