PEMERINTAHAN

Rawan dan Bahaya, Warga Desak Bupati Bogor Segera Bangun Jembatan Leuwi Ceot

BOGOR – Kembali aksi demonstrasi puluhan warga desa ,merobek keheningan dan kebekuan alam puncak yang dikenal seantero negeri bahkan mancanegara.

Alhasil sebuah janji dari mulut pemimpin pada hari nurani rakyat ,akankah pupus oleh waktu dan kepentingan politik sesaat.

Dari catatan dah informasi yang dihimpun tim investigasi,kondisi jembatan Leuwi Ceot kini terlihat membahayakan dan rawan celaka bagi warga yang melintas.

Bahkan setahun sudah, Tepat pada Maret 2025 lalu,sang Bupati Bogor Rudy Susmanto berdiri di tempat yang hampir sama.

Saat itu Bupati Bogor telah berjanji di depan ratusan warga yang matanya penuh harap….

“Jembatan Leuwi Ceot” akan dibangun permanen tahun 2026.”

” Saat itu, beliau meresmikan jembatan sementara—darurat yang hanya bisa dilintasi motor dan pejalan kaki.

Warga bertepuk tangan dan mereka gembira dah percaya akan janji bupati Bogor yang baru.

Nah kini ,sudah setahun pada Maret ditahun 2026 tiba.

Wajar kalo warga sini menagih Janji itu .

Dan tentu jembatan gantung ini juga mungkin adalah janji dari bupati Bogor yang masih menggantung.

Artinya jembatan gantung itu tentu jembatan bersifat sementara waktu agar dapat melintas warga terdampak ,bukan jembatan paten yang kontruksinya memadai.

Ya kondisi jembatan ini, masih menggantung dan bahkan terlihat salah satu tali sling jembatan rawayan itu terlihat nyaris putus”ujar salah satu warga pada media.

Pada Sabtu kemarin , 9 Mei 2026, warga tiga desa Kopo, Cipayung, Cisarua dan Cipayung, Cipayung Girang Megamendung kembali memadati jembatan darurat itu.

Mereka berkumpul didekat jembatan Leuwi Ceot dan berunjuk rasa.

Tampak hadir, para Tokoh masyarakat, ketua RT/RW, pemuda, ibu-ibu, bahkan anak-anak ikut duduk di aspal yang panas.

Ada tulisan pada Spanduk bertuliskan “Tepati Janji Bupati, Bangun Jembatan Permanen” berkibar diantara riuh suara para pendemo.

“Kami berkumpul di sini menagih janji Pak Rudy Susmanto,” ujar Opay, Ketua RW 05 Kampung Cijulang, Desa Kopo. Suaranya serak, bukan karena sakit, tapi karena emosi yang ditahan setahun penuh. “Kami hanya minta kejelasan.

Bulan berapa dibangun? Jangan cuma janji manis.”

Yang paling merasakan getirnya ketidakpastian adalah mereka yang setiap pagi harus melewati jembatan ini. Udu, Ketua RT 02 Kampung Cijulang, menjelaskan dengan jari telunjuk yang menunjuk ke papan-papan jembatan yang sudah bergantian patah.

“Lihat ini. Tali sling sering putus. Kayu alasnya banyak yang patah. Warga sendiri yang menambalinya secara swadaya. Pakai duit patungan.”

Ia lalu membuka ponselnya.

Ada foto seorang pengendara motor yang anggota badannya terluka akibat terpeleset.

“Kecelakaan karena jembatan goyang dan licin.

Sudah puluhan kejadian. Syukur belum ada yang tewas,” ucapnya sambil menghela napas.

Aksi warga tersebut, mendapat dukungan dari Aliansi Masyarakat Bogor Selatan (AMBS).

Ketua AMBS, Muhsin, berdiri di tengah kerumunan dengan pengeras suara .

“Kita lihat dan bisa saksikan bahwa jembatan Leuwi Ceot ini sangat vital bagi warga masyarakat .

Bahkan jembatan inipun menghubungkan dua kecamatan yakni Cisarua dan Megamendung.

Ini penting bagi anak sekolah, pedagang, pekerja—semua terganggu.

Dan tentu guna dari Jembatan rawayan ini umurnya hanya sementara bukan selamanya digunakan mobilitas.

Kami ingin permanen,jembatan yang aman dan nyaman dipakai” ujar Muhsin ,SPd.

Kini isi dari tuntutan warga tidak hanya ke Pemkab Bogor atau Pemprov Jabar.

Mereka juga menunjuk ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane, Kementerian PUPR.

Seperti diutarakan oleh
Sekretaris Jenderal AMBS, Azet Basuni.

“Kita tahu bahwa dikawasan ini ada proyek nasional dan itupun nilai proyeknya ratusan Milyar.

Dan pembangunan Bendung Ciawi yang ratusan miliar, tidak jelas fungsinya dan manfaatnya.

Tapi ini ironis ,ada jembatan yang sangat darurat dan dirasakan oleh warga masyarakat. bahkan , dirasakan langsung manfaatnya untuk masyarakat, kok lama tidak dibangun permanen”ujarnya.

Komponen AMBS dan warga mengancam akan menggeruduk Kantor Bupati Bogor jika tidak ada kepastian.

Dan waktu senja hampir temaram disapu awan hitam ,menoreh pula ingatan akan janji sang pemimpin atas janji setia pada hati nurani rakyat dan pula kekuasaan titipan dari amanat sang pencipta,akankah Perjuangan warga Puncak ini dijawab segera atau pupus pula karena arogansi dan metafora semu politik semata .

Sebab janji adalah hutang para pemimpin atas nasib rakyatnya tidak hanya Dunya tapi hingga Keliang lahat.

(AB)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *