RAGAM

BAPERSIPIL, Karakter Sipil Prabowo adalah Jawaban, Atas Isu “Militerisme!”

BOGOR – Barisan Penggerak Supremasi Sipil (BAPERSIPIL), Jakarta memberikan reaksi keras terhadap narasi yang menyudutkan Presiden Prabowo Subianto terkait isu kembalinya militerisme di Indonesia. Reaksi tersebut disampaikan pada acara Diskusi Publik yang berlangsung di Pakansari, Cibinong, Bogor.

Diskusi publik ini menghadirkan Politisi Partai Gerindra yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Wamendes PDTT), Ahmad Riza Patria, sebagai narasumber utama.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam forum tersebut, di antaranya Praktisi Hukum Fuad Abdullah, perwakilan MPI DPP KNPI Syamtidar Tamagola, serta Penggagas BAPERSIPIL, Ade Adriansyah.

Dalam sambutannya, Ahmad Riza Patria menekankan pentingnya menjaga semangat kebangsaan dan nilai gotong royong yang telah menjadi karakter bangsa Indonesia sejak lama.

“Kita sebagai sebuah bangsa yang sejak dulu bangsa yang gotong-royong. Bangsa yang selalu membantu, membantu satu sama lain,” kata Ahmad Riza Patria.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi apa pun, terutama saat bangsa tengah menghadapi bencana, seluruh elemen masyarakat harus mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun golongan tertentu.

“Nah untuk itu, tidak ada pilihan. Kalau untuk kepentingan bangsa, semua harus mengedepankan kepentingan bangsa. TNI dipersiapkan untuk menjaga pertahanan. Polri dipersiapkan dihadirkan untuk menjaga keamanan,” ujarnya.

Sementara motor penggerak BAPERSIPILAde Ardiansyah, menilai, serangan tersebut bukan hanya salah sasaran, melainkan sebuah bentuk “fobia masa lalu” yang sengaja dipelihara untuk menghambat kemajuan bangsa. 

“Terkait isu kembalinya militerisme di Indonesia. BAPERSIPIL menilai, serangan tersebut bukan hanya salah sasaran, melainkan sebuah bentuk “fobia masa lalu” yang sengaja dipelihara untuk menghambat kemajuan bangsa.” ujar  Ade Ardiansyah, Senin (12/01/26) di Pakansari, Cibinong.

“Presiden sudah bicara soal komitmen demokrasi, tapi para penebar stigma masih saja jualan ‘hantu’ militerisme. Ini narasi sampah yang sudah kadaluwarsa! Rakyat harus sadar, karakter sipil Prabowo hari ini jauh lebih kuat dibanding mereka yang mengaku sipil tapi praktiknya otoriter,” imbuh Abah. 

Dalam pernyataan resminya, Ade Ardiansyah,yang akrab disapa Abah, menegaskan bahwa karakter sipil Presiden saat ini justru merupakan yang paling autentik, karena telah teruji melalui proses demokrasi yang panjang.

Menurutnya, ada beberapa poin krusial untuk mematahkan stigma tersebut, Diplomasi Bukan Instruksi: Langkah internasional Presiden adalah langkah diplomat sipil kelas dunia yang mengutamakan negosiasi, bukan gertakan komando.

Agenda Kerakyatan: Fokus pada gizi anak dan ketahanan pangan adalah murni agenda kesejahteraan sipil (civil welfare) yang sangat humanis. Kepatuhan Konstitusi: Kesabaran Prabowo dalam mengikuti jalur Pemilu selama puluhan tahun adalah bukti nyata pengakuan tertinggi pada supremasi hukum sipil.

Abah menambahkan bahwa kedisiplinan yang dibawa Presiden dari latar belakangnya justru menjadi modal kuat untuk memastikan aparat negara tunduk pada kepentingan rakyat.

“Supremasi sipil itu artinya hukum di atas segalanya. Dan hari ini, kita melihat ketegasan itu digunakan untuk membela kepentingan sipil. Jadi, yang teriak militerisme itu sebenarnya sedang ketakutan karena tidak punya gagasan untuk adu kinerja,” sindir Abah.

Katanya, sudah saatnya publik berhenti memenjarakan Prabowo Subianto dalam jeruji stigma “militerisme” yang usang. Direktur Megapolitan Strategis Indonesia (MSI) tersebut, dalam catatan terbarunya, menegaskan bahwa kepemimpinan Prabowo saat ini justru memancarkan Karakter Sipil yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar latar belakang baris-berbaris di masa lalu.

“Menilai Prabowo hanya dari baretnya adalah kemalasan intelektual. Lihatlah bagaimana dia menavigasi geopolitik dunia; itu bukan gaya komandan lapangan, tapi gaya Arsitek Sipil yang paham betul bahwa bahwa kedaulatan dibangun lewat meja runding dan ketahanan pangan, bukan sekadar moncong senjata,” tandas Abah.

Tiga Alasan Mengapa Stigma Militerisme Harus Berakhir:

  1. Demokrasi Prosedural ke Substansial: Prabowo telah membuktikan kepatuhan total pada jalur demokrasi selama lebih dari dua dekade. Ia membangun partai dari nol dan tunduk pada konstitusi—sebuah perilaku sipil yang lebih murni dibanding banyak politisi sipil yang justru bertindak otoriter.
  2. Kepemimpinan Inklusif: Gaya komunikasi Prabowo yang merangkul lawan politik pasca-Pilpres adalah antitesis dari doktrin militer “kawan atau lawan”. Ini adalah Bapersipil—Bawa Perasaan Sipil yang mengedepankan rekonsiliasi nasional.
  3. Visi Kesejahteraan sebagai Panglima: Fokus pada makan siang gratis, hilirisasi, dan digitalisasi menunjukkan bahwa “panglima” tertinggi dalam pikiran Prabowo adalah kesejahteraan rakyat, bukan mobilisasi kekuatan fisik.

BAPERSIPIL mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berhenti terjebak pada dikotomi label dan mulai fokus mengawal kebijakan yang berdampak nyata bagi kesejahteraan. “Jangan sampai kita gagal melihat emas hanya karena sibuk meributkan warna kotaknya,” pungkasnya.(Ahp)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *