Aktifis AMI,M.Rojai: Diduga KPK Rajin Piknik ke Bogor, Tapi Tersangka Tak Kunjung Ada
Wisata Alam atau Wisata Hukum?

BOGOR – Kritik adalah saluran demokrasi, Dan dari kritik cerdas itupun demokrasi diharapkan tumbuh sehat .
Aktifis AMI ( Aktifis Matahari Indonesia),M .Rojai memberikan statemen keras atas kinerja KPK di kabupaten Bogor.
Dimana dalam analisa dan kajian AMI dinilai lambat KPK menetapkan TSK bahkan hilir mudik dalam 3 bulan belum ada hasil memuaskan masyarakat luas sesuai tupoksi.
“Ada pemandangan rutin yang kini hafal di luar kepala warga Kabupaten Bogor saat ini.
Mobil-mobil berplat khusus masuk ke Bumi Tegar Beriman
Berhenti sebentar di Polres. Memanggil nama-nama yang familiar: dari bupati, wakil, sekda, hingga ajudan. Lalu pergi lagi menyisakan pertanyaan .
Bak piknik tanpa oleh-oleh dan tanpa pengumuman tersangka.
Ritual itu berulang. Hasilnya nihil.
Atau setidaknya, nihil yang bisa dibaca publik” ujar M Rojai pada media,Sabtu (31/10).
Dilain hal kata dia,maka wajar saat ini jika pikiran liar warga mulai bersemi.
“Ada hal penting atas Marwah KPK bahwa hal Ini sebenarnya harus disadari KPK,yakni Komisi Pemberantasan Korupsi atau ada Komisi Perjalanan ke kabupaten Bogor.
Ya memang pertanyaan itu terdengar sinis.
Tapi sinisme itu lahir bukan dari kebencian, melainkan dari lelahnya menunggu kepastian dan rasa cinta bangga aktifis anti Korupsi pada KPK.
Coba kita runut dramanya sejak KPK beraksi dikabupaten Bogor dengan indek pretasi gemilang.
Layar film pertama: ….
Diera OTT WTP Bupati Ade Yasin.
Publik tepuk tangan, KPK dianggap masih bertaji.
Dan Layar Film kedua: panggung ganti pemain.
Ketua DPRD yang dulu dipanggil sebagai saksi kini menjadi Bupati Bogor.
Namum Dilayar Film ketiga ini,yang paling panjang: …
Seakan drama berseri berjudul Upah Pungut, Pengadaan Barang dan Jasa, RSUD Parung, hingga Jembatan Rp.56 Miliar.
Tentu setiap episode selalu ada teaser:…
Ada pemeriksaan di Polres Bogor telah diketahui publik bahkan Wabup dipanggil,Sekda dipanggil dah Ajudan Bupati dipanggil.
Kalo sudah ada background Musik dramatis mengiringi tentu ada jutaan penonton hadir kritis lagi.
Nah, Tapi ending-nya selalu menggantung ini seakan cerita tak tuntas atau tamat..
Di titik inilah diduga sutradara drama sesungguhnya mungkin bukan KPK.
Bahkan diduga ada peran lain,bisa memainkan para penyidik itu sendiri.
Mereka paham betul cara mengelola persepsi.
Seakan ibarat ujian anak sekolah soal sudah bocor sebelum test akhir semester.
Cukup hadapi pemeriksaan, jawab seperlunya, lalu kembali berkantor seolah tak terjadi apa-apa.
Seolah pemeriksaan adalah bagian dari tugas kedinasan, bukan alarm bahaya. Rakyat yang menonton dari bawah pun akhirnya terbawa perasaan. Berasumsi, menduga, dan pada akhirnya apatis.
Tentu kami peduli pada KPK,dan hal inilah opini yang paling berbahaya.
Ketika hukum hadir hanya sebagai tontonan, bukan sebagai keputusan.
Dan ketika penegakan hukum terasa seperti drama yang sengaja dibuat berlarut-larut agar penonton lupa jalan ceritanya.
Masyarakat Bogor hari ini tidak bodoh.
Mereka cerdas membaca gaya kepemimpinan
Mereka melihat, apakah pemimpinnya hadir dengan moral, akhlak, dan rasa kemanusiaan, atau justru hadir dengan gaya menindas dan membodohi.
Pemimpin yang baik tidak membuat rakyatnya harus menebak-nebak apakah uang pajaknya dipakai untuk jembatan yang kokoh atau untuk jembatan menuju pundi-pundi. Pemimpin yang baik tidak membuat ajudannya harus bolak-balik ke ruang pemeriksaan.
Jika KPK memang mengemban tugas sebagai Komisi Pemberantasan Korupsi, bukan Komisi Pemberi Kepastian Semu, maka publik menunggu satu hal kepastian hukum .
Bukan sekadar kunjungan apalagi piknik.
Karena jika kunjungan rutin tanpa penetapan itu terus terjadi, maka dua kerugian sekaligus terjadi.
Marwah KPK sebagai lembaga independen yang kita banggakan akan terkikis. Dan integritas Kabupaten Bogor akan terus dipertaruhkan.
Pada akhirnya, rakyat tidak butuh drama.
Rakyat butuh akhir cerita.
Apakah ini cerita tentang pemberantasan korupsi, atau hanya cerita tentang wisata alam ke Kabupaten Bogor alias piknik” tegas M.Rojai. (AB)



