RAGAM

FWBS & BTJ GELAR AKSI “BUKAN WARTAWAN PENDOPO”

TAK MAU MENJILAT, PENA PERS DIPERTAJAM

BOGOR – Kali ini ada napas dan ruh yang kembali digaungkan para wartawan dikabupaten Bogor.

Ditengah carut dan marutnya opini publik atas aksi nyata KPK memberantas dugaan korupsi.

Dimana pada media,ketua FWBS ( Forum Wartawan Bogor Selatan ) Acep Mulyana memberikan rellesenya .

Ada 3 tuntutan mendasar sebagai pesan sosial pada semua awak media untuk kembali pada harga diri dan Marwah selaku pilar negara yang netral dan handal.

3 tuntutan itu yakni:…

  1. Dukung Pemberantasan Korupsi, Jurnalis Bogor Kompak Berkaus ‘Bukan Wartawan Pendopo’
  2. Jurnalis se-Bogor Kompak Kenakan Kaus ‘Bukan Wartawan Pendopo”.
  3. Jurnalis Prihatin Korupsi Pemkab Bogor.

Dimana aksi ini dilakukan oleh
Puluhan Jurnalis media cetak dan online dari berbagai penjuru se-Kabupaten Bogor Kompak mengenakan kaus bertuliskan ‘Bukan Wartawan Pendopo’.

Hal ini sebagai bentuk kritik sosial sekaligus gerakan mendukung Pemberantasan korupsi di kabupaten Bogor.

Puluhan wartawan dari penjuru timur, selatan, barat, utara, dan tengah Kabupaten Bogor ini merasa prihatin dengan maraknya kasus korupsi yang selalu terjadi setiap kali berganti Bupati dan Wakil Bupati Bogor.

“Kami merasa sangat miris dan prihatin, setiap kali berganti Kepala Daerah, kasus korupsi selalu terjadi di Kabupaten Bogor. Kami sebagai bagian dari warga Kabupaten Bogor merasa peduli dan tergerak agar semua bentuk perilaku koruptif khususnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor hilang. Karena korupsi sangat berdampak buruk terhadap kesejahteraan masyarakat maupun insan pers,” ungkap Abeng, salah satu wartawan penggagas.

Dady, Ketua Bogor Timur Jurnalis (BTJ), menegaskan, bahwa aksi yang dilakukan puluhan jurnalis ini tidak ada kaitan politis.

“Ini murni gerakan peduli wartawan di Bogor.

Tidak ada sponsor dan tidak untuk menyerang personal siapapun.

Kepala Daerah beserta jajarannya harus bersih dari korupsi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Forum Wartawan Bogor Selatan, Acep Mulyana, menandaskan, insan pers sebagai pilar keempat demokrasi memiliki peran yang sangat strategis terhadap maju mundurnya bangsa dan negara.

“Oleh karenanya melalui aksi ‘bukan wartawan pendopo’ ini kami ingin menyampaikan pesan agar para wartawan kembali ke marwah dan tetap bekerja sesuai kode etik dan Undang-Undang Pers sehingga tetap menjaga independensi, good news is good news, bad news is bad news,” tandasnya.

( Agusbagja )

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *