Srikandi Energi Indonesia Apresiasi Respons Cepat Pertamina dalam Menjamin Akses Energi bagi Korban Banjir Sumatra

JAKARTA — Direktur Eksekutif Srikandi Energi Indonesia, Annisa Nuril Deanty, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pertamina atas respon cepat, humanis, dan penuh tanggung jawab dalam memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi di tengah bencana banjir besar yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Banjir yang terjadi dalam beberapa hari terakhir merendam ribuan rumah, memutus akses jalan, membuat aktivitas lumpuh, dan memaksa warga—terutama kelompok rentan—mengungsi ke tempat-tempat darurat. Dalam kondisi sulit tersebut, Pertamina dinilai hadir bukan hanya sebagai perusahaan energi, tetapi sebagai penjaga kehidupan.
Annisa menegaskan bahwa langkah Pertamina dalam menjaga pasokan BBM dan LPG di wilayah terdampak adalah wujud nyata keberpihakan pada rakyat, terutama mereka yang paling lemah secara sosial.
“Pertamina hadir dengan hati. Di saat banjir mengancam akses masyarakat terhadap BBM, LPG, dan energi lainnya, Pertamina memastikan distribusi tetap berjalan—khususnya untuk ibu hamil, lansia, anak-anak, dan kelompok rentan lain yang sangat bergantung pada stabilitas energi untuk keselamatan dan kesehatan mereka,” ujarnya.
Pertamina, lanjutnya, telah menyiapkan jalur distribusi alternatif, memperkuat stok di wilayah rawan banjir, dan mengerahkan tim siaga untuk memastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal dari akses energi.
Annisa juga memberikan penghormatan khusus kepada para pekerja Pertamina di lapangan yang tetap bertugas meski kondisi sangat berisiko.
“Kami memberikan penghargaan kepada para pekerja Pertamina yang rela bertugas di tengah hujan deras, jalan terputus, bahkan ancaman keselamatan. Mereka memastikan keluarga-keluarga di pengungsian tetap bisa memasak, menghangatkan diri, atau menyalakan alat kesehatan sederhana untuk balita dan lansia. Ini bentuk pelayanan publik yang patut diteladani,” tegasnya.
Akses terhadap energi bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup, terutama di tengah krisis.
Sebagai organisasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan di sektor energi, Srikandi Energi Indonesia menilai bahwa jaminan energi saat bencana berdampak besar pada keselamatan perempuan dan anak-anak. Lampu penerangan, alat memasak, hingga alat kesehatan sederhana di posko pengungsian sangat bergantung pada stabilitas energi.
Annisa menegaskan bahwa peran Pertamina sebagai garda ketahanan energi nasional harus terus diperkuat, terutama dalam situasi bencana yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim.
Annisa juga menyerukan pentingnya tobat ekologis, sebuah ajakan untuk kembali merawat bumi dan memperbaiki tata kelola lingkungan.
“Banjir ini mengingatkan kita bahwa alam sedang memberi peringatan. Kita harus kembali pada etika ekologis. Tobat ekologis bukan sekadar ajakan moral, tetapi kebutuhan mendesak agar generasi muda tidak terus hidup dalam ancaman bencana,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa mitigasi bencana tidak bisa berjalan tanpa sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
Menutup pernyataannya, Annisa menyampaikan harapan besar agar seluruh elemen bangsa tetap menjaga spirit gotong royong dan solidaritas kemanusiaan.
“Pertamina telah menunjukkan tanggung jawab sebagai perusahaan milik rakyat. Tugas kita adalah memastikan dukungan publik terus mengalir, agar pelayanan energi—khususnya bagi kelompok rentan—tetap menjadi prioritas utama,” pungkasnya.
Banjir yang melanda Sumatra adalah duka nasional. Namun di balik duka itu, keteguhan dan kepedulian para penjaga energi Indonesia menunjukkan bahwa harapan selalu hadir bersama aksi nyata.(Agung DS)



