PENDIDIKAN

Pendidikan Etika Moral Dan Spiritualitas, Tali Simpul Pemikiran: KH Hasyim Asyari Dan Ki Hajar Dewantara

DALAM proses untuk mencapai dan meningkatkan kesejahteraan hidup (jasmani dan Rohani), maka setiap individu diperintahkan untuk belajar secara terus menerus sepanjang hidupnya, dan hal itu merupakan konsekuensi logis ditetapkannya manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini.

Much Dumami, M.Pd

Pendidikan merupakan bagian dari tugas kekhalifaan manusia. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan harus dilaksanakan secara konsisten dan penuh tanggung jawab. Dalam hal ini, memberikan pandangan bahwa konsep-konsep yang mendasar tentang pendidikan dan tanggung jawab umat manusia untuk menjabarkan dan mengaplikasikannya ke dalam praktek pendidikan.

Pendidikan merupakan keharusan mutlak untuk dilaksanakan secara konsisten dengan penuh rasa tanggung jawab, guna mencapai kesejahteraan hidup sebagai wujud peribadatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT adalah berkaitan tentang urgensi pendidikan, yakni iqra’, perintah membaca. Hasil usaha belajar membaca ayat-ayat qur’aniyah, dapat menghasilkan ilmu agama seperti fikih, tauhid, akhlak dsb.

Sedangkan hasil dengan usaha membaca ayat-ayat kawniyah, dapat menghasilkan sains seperti fisika, biologi, kimia, astronomi dan semacamnya. Intinya ilmu yang bersumber dari ayat-ayat qur’aniyah dan kawniyah, harus diperoleh melalui proses belajar membaca.

Allah SWT memberi pendengaran, penglihatan dan hati kepada manusia, agar dipergunakan untuk merenung, memikirkan, dan memperhatikan apa-apa yang ada disekitarnya. Kesemuanya ini, merupakan motivasi bagi segenap umat manusia untuk mencari ilmu pengetahuan melalui jalur pendidikan, dan sekaligus merupakan kewajiban bagi setiap muslim, sejak kecilnya sampai berusia lanjut.

Pendidikan di samping sebagai kewajiban, mutlak dibutuhkan oleh setiap generasI untuk kepentingan eksistensinya. Terutama di saat memasuki era globalisasi yang penuh tantangan. Pendidikan yang menekankan aspek etika, moral, kecerdasan spiritual memiliki format pemeliharaan, pemanfaatan, dan pengembangan fitrah kemanusian dalam mengantisipasi krisis spiritual di era globalisasi.

Pendidikan Menurut Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunia dan akheratnya. Pendidikan itu membentuk manusia yang berbudi pekerti, berpikiran (pintar, cerdas) dan bertubuh sehat. Menurut Ki Hajar Dewantara, pertama adalah: Manusia Indonesia yang berbudi pekerti adalah yang memiliki kekuatan batin dan berkarakter. Artinya, pendidikan diarahkan untuk meningkatkan citra manusia Indonesia menjadi berpendirian teguh untuk berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Ekspresi kebenaran itu terpancarkan secara indah dalam dan melalui tutur kata, sikap, dan perbuatannya terhadap lingkungan alam, dirinya sendiri dan sesame manusia. Jadi, budi pekerti adalah istilah yang memayungi perkataan, sikap dan tindakan yang selaras dengan kebenaran ajaran agama, adat-istiadat, hukum positif, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilaikemanusiaan universal.

Kedua, Manusia di Indonesia yang maju pikirannya adalah yang cerdas kognisi (tahu banyak dan banyak tahu) dan kecerdasannya itu membebaskan dirinya dari kebodohan dan pembodohan dalam berbagai jenis dan bentuknya (misalnya: karena rekayasa penjajah berupa indoktrinasi). Istilah maju dalam pikiran ini menunjukkan meningkatnya kecerdasan dan kepintaran. Manusia yang maju pikirannya adalah manusia yang berani berpikir tentang realitas yang membelenggu kebebasannya, dan berani beroposisi berhadapan segala bentuk pembodohan

Ketiga, manusia di Indonesia yang mengalami kemajuan pada tataran fisik atau tubuh adalah yang tidak semata sehat secara jasmani, tapi lebih-lebih memiliki pengetahuan yang benar tentang fungsi-fungsi tubuhnya untuk memerdekakan dirinya dari segala dorongan ke arah tindakan kejahatan. Manusia yang maju dalam aspek tubuh adalah yang mampu mengendalikan dorongan-doroangan tuntutan tubuh. Dengan dan melalui tubuh yang maju itu pula, pikiran yang maju dan budi pekerti yang maju memperoleh dukungan untuk mendeklarasi kemerdekaan diri dari segala bentuk penindasan ego diri yang pongah dan serakah di satu sisi dan memiliki kemampuan untuk menegaskan eksistensi diri secara beradab sebagai manusia yang merdeka (secara jasmani dan rohani) di sisi lain. Dalam praksis kehidupan, kemajuan dalam tubuh bisa dipahami sebagai memiliki kekuatan untuk memperjuangkan kemerdekaan dan keterampilan untuk mengisi kemerdekaan itu dengan segala pembangunan yang humanis.

Pendidikan Menurut KH Hasyim Asy’ari

Tujuan pendidikan yang ideal menurut K.H. Hasyim Asy’ari adalah untuk membentuk masyarakat yang beretika tinggi (akhlaqul karimah). Rumusan ini secara implisit dapat terbaca dari beberapa hadits dan pendapat ulama yang dikutipnya. Beliau menyitir sebuah hadits yang berbunyi: “diriwayatkan dari Aisyah r.a. dari Rasulullah SAW bersabda : kewajiban orang tua terhadapnya adalah membaguskan namanya, membaguskan ibu susuannya dan membaguskan etikanya” (Alfauzany, 2012). K.H. Hasyim Asy’ari tidak merumuskan definisi belajar secara kongkret dalam karyanya, Adab ‘Alim Wa Al Muta’allim.

Untuk mendapatkan rumusan yang jelas tentang konsep belajar, beliau menarik pengertian dari keseluruhan isi kitab, baru kemudian dicoba dirumuskan definisi tersebut. Tujuan pendidikan yaitu untuk mewujudkan masyarakat beretika, titik tekan pada moralitas itu tampak mendominasi di berbagai tempat dalam karyanya. Konsep dasar belajar yaitu mengembangkan seluruh potensi jasmani dan rohani untuk pelajar, menghayati, menguasai dan mengamalkan secara benar ilmu-ilmu yang dtuntut untuk keperluan dunia dan agama. Konsep dasar pendidikan yaitu ada beberapa hal etika yang harus dilakukan insan pendidikan diantaranya: mendekatkan diri kepada Allah, bersikap tenang, wara/ tawadhu, khusu (mengadukan segala persoalan kepada Allah), bersikap zuhud, dan rajin memperdalam kajian keilmuan.

Konsep dasar belajar menurut K.H. Hasyim Asya’ri sesungguhnya dapat ditelusuri melalui penjelasannya tentang etika seorang murid yang sedang belajar, etika seorang murid terhadap pelajarannya, dan etika seorang murid terhadap sumber belajar (kitab, buku, dan guru). Dari tiga konsep etika tersebut dapat ditemukan gambaran yang cukup terang bagaimana konsep dan prinsip-prinsip belajar menurut beliau (Kitab Adab A’lim Wa Muta’allim karangan K.H. Hasyim Asy’ari)

Dalam konsep pertama, K.H. Hasyim Asya’ri menginventarisir terdapat sepuluh macam etika yang harus dicamkan seorang siswa dalam belajar, yaitu : (1) membersihkan hati dari berbagai sifat yang mengotori, seperti : iri, dengki, dendam serta akhlak dan akidah yang rusak. (2) meniatkan mencari ilmu semata-mata karena Allah SWT, untuk mengamalkannya, menghidupkan syari’atnya dan menyinari hatinya. (3) menyegerakan menuntut ilmu selagi kesempatan memungkinkan. (4) bersifat menerima terhadap pemberian Tuhan. (5) membagi waktu dengan sebaik-baiknya. (6) wara’ (7) menyedikitkan makan dan minum, karena kebanyakan makan menyebabkan kemalasan mengurangi kecerdasan. (8) mengurangi tidur selama tidak membahayakan kesehatan. (9) menghindarai pergaulan yang tidak bermanfaat, terlebih lagi terhadap lawan jenis.

Konsep kedua: etika seorang murid ketika sedang belajar, K.H.Hasyim Asya’ri menginventariskannya menjadi tiga belas macam, yaitu: (1) mendahulukan mempelajari ilmu yang bersifat fardhu ‘ain. (2) memahami tafsir serta seluk beluknya.(3) berhati-hati dalam menyikapi persoalan yang masih menjadi perdebatan para ulama. (4) mendiskusikan atau mengkonsultasikan hasil belajar kepada orang yang dipercayainya. (5 ) segera menyimak suatu ilmu, terutama hadits. (6) mempunyai motivasi yang tinggi untuk selalu menelalah ilmu dan tidak menunda-nundanya. (7) dekat dengan orang alim serta bersama-sama mengkajinya. (8) mengucapkan salam ketika memasuki suatu majelis ta’lim. (9) aktif bertanya (10) sportif dalam bertanya ketika banyak yang bertanya (11) hendaknya membacakan kitab dihadapan syekh atau guru, ketika sang guru sedang tidak sibuk. (12) memantapkan pemahaman (13) senang terhadap ilmu.

Konsep ketiga: etika seorang murid terhadap sumber belajar (buku, kitab), Kiai Hasyim mengiventariskan menjadi lima macam etika, yaitu: (1) hendaknya murid memiliki buku yang diperlukan. (2) dianjurkan untuk meminjam buku kepada orang lain (saling percaya). (3) meletakkan buku pada tempatnya. (4) jika mau meminjam atau membeli, hendaklah teliti. (5) suci dari hadas ketika menela’ah buku.

Simpul dan Arti Penting Pendidikan

Dari pemikiran kedua tokoh diatas bahwa penekanan pendidikan etika, moral dan spiritualitas itu menjadi penting dalam dunia pendidikan. Dan, Pendidikan itu sendiri penting bagi seseorang karena dengan adanya pendidikan, maka seseorang dapat menjadi produktif. Pendidikan sangat penting karena pendidikan dapat memberi seseorang sebuah keterampilan dan hal yang dibutuhkan untuk bisa berhasil dalam hidup dunia dan akherat. Inilah sebabnya mengapa pendidikan memainkan peran besar bagi manusia. Dengan adanya pendidikan, maka seseorang bisa menafkahi keluarga mereka. Pendidikan membantu individu membuat keputusan yang baik dan meningkatkan peluang mereka untuk berhasil dalam hidup. Ini juga penting bagi masyarakat. Ini dapat membantu orang tumbuh sebagai anggota masyarakat yang produktif, berdampak positif pada melaksanakan ibadah dengan baik,  ekonomi dan mengurangi tingkat kejahatan secara signifikan.

Pendidikan adalah sesuatu yang tidak hanya dibutuhkan pada tingkat pribadi, tetapi juga pada tingkat global, karena itu adalah sesuatu yang menjaga dunia kita tetap aman dan menjadikannya tempat yang lebih damai. Pendidikan cenderung mengajari orang perbedaan antara benar dan salah, dan dapat membantu orang menghindari situasi berisiko. Seluruh dunia mengejar pendidikan. Setiap individu membutuhkan pendidikan untuk menjalani kehidupan secara maksimal. Untuk berinteraksi lebih baik dengan lingkungan kita dan memanfaatkan rentang hidup kita sebaik-baiknya, pendidikan sangat penting.

Mengejar pendidikan adalah salah satu aspek terpenting dalam kehidupan. Pendidikan adalah apa yang memberdayakan kita. Ini memberi kita pengetahuan tentang dunia dan memungkinkan kita untuk mengalami hidup dalam semua warna yang indah. Seseorang tidak dapat benar-benar menikmati hidup tanpa mengetahui keajaiban di sekitarnya. Pendidikan memungkinkan seseorang untuk menjadi lebih terinformasi tentang keadaan dunia di sekitar mereka sehingga mereka dapat terlibat dalam komunitas mereka atau bahkan membantu mengatasi tantangan global. Pendidikan memberdayakan individu dengan pengetahuan yang memberi mereka kekuatan atas diri mereka sendiri dan orang lain. Pentingnya pendidikan terlihat dalam setiap aspek kehidupan, dan sangat penting bagi kehidupan beragama, pertumbuhan suatu bangsa dan Masyarakat.

Penulis: Much Dumami, M.Pd

Ponpes Mambaul Hikmah Kerten – Ngawi

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *