“JASMERAH” Mahasiswa INAIS Bersumpah Menolak Lupa atas Kasus Pelanggaran HAM di Bulan September

BOGOR – Kata dan kalimat Soekarno dalam buku yang populer di Bawah Panji Revolusi ,Jasmerah ( Jangan Lupa Sejarah ).
Catatan kelam nan gelap pada peristiwa dibulan September menjadi salah satu bulan yang menyimpan catatan penting dalam perjalanan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.
Sejumlah kasus kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi pada bulan September meninggalkan luka bagi korban, keluarga korban, serta masyarakat yang hingga kini masih menantikan keadilan.
Momentum September Hitam menjadi ruang bagi mahasiswa untuk kembali mengingat berbagai peristiwa tersebut.
Mengingat bukan berarti terjebak pada masa lalu.
Mengingat merupakan bagian dari upaya menjaga agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Atas dasar kepedulian terhadap kemanusiaan dan penegakan HAM, Mahasiswa Institut Agama Islam Sahid (INAIS) menyatakan sikap untuk menolak lupa terhadap berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di bulan September.

Mahasiswa memandang bahwa penegakan HAM tidak boleh berhenti pada pernyataan, peringatan, maupun agenda seremonial. Negara memiliki kewajiban untuk memastikan hak setiap warga negara dihormati, dilindungi, dan dipenuhi.
Penyelesaian kasus pelanggaran HAM juga harus memperhatikan hak korban dan keluarga korban atas kebenaran, keadilan, dan pemulihan.
Presiden Mahasiswa INAIS, Reza Rizki Hermawan, menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ingatan publik terhadap berbagai persoalan HAM.
“Bagi kami, September Hitam bukan sekadar momentum untuk mengenang. Ini adalah pengingat bahwa masih ada persoalan HAM yang membutuhkan perhatian dan penyelesaian.
Mahasiswa tidak boleh kehilangan daya kritis dan tidak boleh membiarkan sejarah berjalan tanpa catatan.”tegas Reza Rizki Hermanwa pada media ,Kamis (1/10).
Dimana ,
Reza menegaskan bahwa perjuangan mahasiswa dalam isu HAM bukan sekadar persoalan demonstrasi atau kritik terhadap pemerintah.
Menurutnya, gerakan mahasiswa harus dibangun melalui pengetahuan, keberanian menyampaikan kebenaran, serta keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan.
“Kami bersumpah untuk tidak menormalisasi kekerasan dan tidak membiarkan penderitaan korban hilang dari ingatan publik.
Ketika keadilan belum sepenuhnya dirasakan oleh korban, maka tugas kita adalah terus mengawal dan mengingatkan.
Kami menolak lupa”ujarnya.
Dilain hal,Mahasiswa INAIS juga menilai bahwa kebebasan berpendapat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
“Ruang akademik dan ruang publik harus menjadi tempat yang aman bagi mahasiswa dan masyarakat untuk menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.
Melalui momentum September Hitam, Mahasiswa INAIS menyerukan point pernyataan sikap yakni:
- Menolak lupa terhadap berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di bulan September.
- Mendorong penyelesaian kasus pelanggaran HAM secara transparan, adil, dan berorientasi pada kepentingan korban.
- Mendesak penghormatan terhadap hak korban dan keluarga korban, termasuk hak atas kebenaran, keadilan, dan pemulihan.
- Menolak segala bentuk kekerasan dan tindakan represif yang bertentangan dengan prinsip HAM dan demokrasi.
- Mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk terus mempelajari sejarah, mengawal penegakan HAM, serta menjaga ruang kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat.
September Hitam mengajarkan bahwa sejarah tidak cukup hanya untuk dikenang.
Sejarah harus menjadi pelajaran agar kekerasan dan ketidakadilan tidak kembali berulang.
Mahasiswa INAIS bersumpah untuk menolak lupa.
Karena korban berhak mendapatkan keadilan.
Karena sejarah berhak mendapatkan kebenaran.
Dan karena kemanusiaan tidak boleh dikalahkan oleh lupa. (AB)



