Dulu Main Gaple, Kini Ada Wasit dan Denda: Begini Serunya ORADO KONI Expo Lambar

LAMPUNG BARAT — Ada cerita menarik di hari pertama Turnamen Olahraga Domino (ORADO) dalam rangka KONI Expo Lampung Barat 2026.
Sejumlah pemain yang selama ini dikenal sebagai jawara domino di tingkat pekon dan kecamatan harus angkat meja lebih cepat setelah tumbang di babak awal. Salah satunya pasangan Pahiri (44) dan Jaslan (59), atlet domino asal Pekon Tugu Ratu, Kecamatan Suoh.
Pasangan ini harus mengakui keunggulan Tim Bagian Umum Pemkab Lampung Barat dalam pertandingan yang berlangsung setelah turnamen resmi dibuka, Kamis (17/9/2026).
Namun, ada pengakuan menarik dari Pahiri. Ia menyebut dirinya dan pasangan bukan tidak bisa bermain domino. Persoalannya, mereka belum terbiasa dengan aturan pertandingan ORADO sebagai olahraga prestasi.
“Kalau kami dari pekon atau desa, di sana kami main tidak pakai aturan. Di turnamen ini banyak hal baru dan aturan baru sehingga kami gagap. Ya, kami kalah di aturan, kami sering kena denda,” ujar Pahiri sembari tertawa.

Pengakuan tersebut sekaligus menggambarkan tantangan awal yang dihadapi ORADO Lampung Barat: mengubah kebiasaan bermain domino sebagai permainan masyarakat menjadi pertandingan olahraga yang memiliki regulasi resmi.
Datang dari Suoh, Bukan Sekadar Mengejar Juara
Meski harus tersingkir di babak awal, Jaslan mengaku tidak kecewa. Baginya, keikutsertaan dalam turnamen tersebut justru menjadi kesempatan untuk bertemu pemain lain sekaligus mempelajari regulasi ORADO.
“Kami jauh-jauh dari Suoh ikut dalam rangka mau ketemu senior-senior kami di olahraga domino ini. Kami juga mau belajar tahu tentang aturan-aturan di olahraga prestasi ini,” kata Jaslan.
Ia bahkan memberikan masukan agar Pengkab ORADO Lampung Barat lebih aktif melakukan sosialisasi aturan pertandingan.
“Kami sarankan Pengurus Kabupaten ORADO aktif sosialisasikan aturan-aturannya,” tambahnya.
Baru Dua Bulan, Tapi Potensinya Besar
Ketua Harian KONI Lampung Barat, Padang Prio Utomo, yang hadir menyaksikan turnamen mengatakan ORADO di Lampung Barat memang masih sangat muda.
“ORADO ini usianya belum seumur jagung, baru sekitar dua bulan terbentuk di Kabupaten Lampung Barat,” ujar Padang.
Karena itu, menurutnya, proses pengenalan aturan kepada masyarakat menjadi pekerjaan penting bagi Pengkab ORADO.
“Saya setuju kalau Pengurus Kabupaten Federasi Olahraga Domino mesti aktif sosialisasikan aturan-aturannya. Kita ini Kabupaten ke-22 di Provinsi Lampung yang telah terbentuk kepengurusannya,” katanya.
Padang melihat ORADO memiliki basis massa yang potensial karena domino atau gaple sudah lama menjadi bagian dari permainan masyarakat.
“Seperti kata Pak Bupati, kalau ORADO ini sudah terinformasi sampai ke seluruh pekon di Kabupaten Lampung Barat, maka cabang olahraga ini akan memiliki atlet terbesar. Karena domino atau gaple memang menjadi hobi kebanyakan masyarakat,” ujarnya.
Ketua ORADO: Sekarang Bukan Sekadar Main Gaple.
Ketua Pengkab ORADO Lampung Barat Abdul Rosid mengatakan turnamen ini menjadi langkah awal memperkenalkan olahraga domino secara lebih luas kepada masyarakat.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa ketika domino masuk ke ranah olahraga prestasi, maka ada aturan pertandingan yang harus dihormati oleh seluruh peserta.
“Domino selama ini sangat dekat dengan masyarakat. Tetapi ketika masuk menjadi olahraga prestasi, permainan tersebut memiliki regulasi, wasit, sistem pertandingan dan sanksi yang harus dipahami atlet,” kata Abdul Rosid.
Ia menilai pengalaman para pemain pada turnamen perdana tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran.
“Jadi jangan hanya belajar bagaimana memenangkan pertandingan, tetapi juga belajar bagaimana bertanding sesuai aturan. Sosialisasi regulasi akan terus kita dorong sampai ke komunitas, pekon dan kecamatan,” ujarnya.
Jangan Asal Sentuh Batu!
Salah satu wasit turnamen, Suhartono, menjelaskan bahwa regulasi ORADO mengatur berbagai tindakan yang dikategorikan sebagai pelanggaran.
Berdasarkan The Law of Domino 101 Federasi Olahraga Domino Nasional Pasal 13 tentang klasifikasi pelanggaran, terdapat pelanggaran ringan dan pelanggaran berat.
“Pelanggaran ringan salah satunya menyentuh batu tanpa alasan, seperti merubah atau mengatur posisi batu. Bila itu terjadi, setiap pelanggaran ringan akan dikenakan peringatan,” jelas Tono.
Namun jangan dianggap sepele.
Jika sebuah tim melakukan dua kali pelanggaran ringan dalam satu set, tim lawan mendapat tambahan 11 poin, dan dua pelanggaran ringan tersebut diperhitungkan sebagai satu pelanggaran berat.
Sedangkan pelanggaran berat antara lain berbicara saat pertandingan, bermain di luar giliran, mengintip batu lawan, serta menyatakan pass atau lewat ketika pemain masih memiliki batu yang cocok untuk dimainkan.
“Setiap pelanggaran berat dikenakan sanksi berupa penambahan 11 poin untuk tim lawan. Jika satu tim terakumulasi melakukan tiga kali pelanggaran berat, sanksinya kalah satu set,” ujar Tono.
Dengan aturan tersebut, para pemain dituntut bukan hanya piawai membaca susunan batu, tetapi juga mampu mengendalikan diri dan disiplin selama pertandingan.
Jadi, pesan dari meja ORADO Lampung Barat cukup sederhana: jago main belum tentu cukup. Kenali aturannya, patuhi wasit, jangan asal menyentuh batu, jangan bermain di luar giliran—dan tentu saja, jangan sampai “kalah karena aturan”.
Turnamen ORADO KONI Expo Lampung Barat 2026 sendiri berlangsung hingga 19 September 2026, menjadi momentum awal untuk memperkenalkan olahraga domino prestasi sekaligus mencari bibit-bibit atlet dari berbagai wilayah di Kabupaten Lampung Barat. (DELPAN)



