PEMERINTAHAN

Lapak Baca Lambar Pekan Kelima Dikunjungi 56 Orang, Pengunjung Mulai Aktif Berdiskusi Buku

LAMPUNG BARAT – Kegiatan Lapak Baca Lampung Barat pada pekan kelima yang berlangsung Minggu (18/10/2026) berjalan lancar. Kegiatan yang berlokasi di Kompleks Pemda Lampung Barat tersebut menunjukkan peningkatan jumlah pengunjung, sekaligus mulai tumbuhnya interaksi dan diskusi di antara para pembaca.

Ketua Pengelola Lapak Baca Lambar, Bagus Gunawan, menyampaikan bahwa pada pekan kelima ini tercatat sebanyak 56 orang berkunjung, dengan 11 orang di antaranya meminjam buku untuk dibaca di rumah.

Menurut Bagus, peningkatan jumlah pengunjung tersebut tidak terlepas dari upaya promosi dan sosialisasi yang dilakukan melalui media sosial, khususnya Instagram dan WhatsApp.

“Alhamdulillah, kegiatan Lapak Baca pada pekan kelima berjalan lancar. Jumlah pengunjung terus meningkat. Minggu ini ada 56 orang yang datang, dan 11 orang meminjam buku untuk dibaca di rumah,” ungkap Bagus Gunawan.

Hadirkan Review Book, Bangun Interaksi Antar-Pembaca Tidak hanya menyediakan bahan bacaan, Lapak Baca Lambar juga mulai mengembangkan kegiatan yang mendorong pengunjung lebih aktif berinteraksi melalui program review book atau ulasan buku.

Dalam kegiatan ini, pengunjung yang membaca buku di lokasi maupun meminjam buku untuk dibawa pulang diberi kesempatan menuliskan kutipan menarik dari buku yang dibaca, sekaligus membuat resensi atau ulasan mengenai isi buku tersebut.

Melalui kegiatan itu, interaksi antar-pembaca mulai terlihat. Mereka tidak sekadar membaca, tetapi juga berbagi cerita, bertukar pandangan, dan mendiskusikan isi buku yang telah dibaca.

Bagus menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun budaya literasi yang lebih hidup dan partisipatif di tengah masyarakat Lampung Barat.

“Kami ingin Lapak Baca ini menjadi ruang bertemu bagi orang-orang yang memiliki ketertarikan terhadap buku.

Pengunjung tidak hanya datang untuk membaca, tetapi juga bisa menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, dan berdiskusi tentang bacaan mereka,” jelasnya.

Buku Diangkut Menggunakan Motor, Sekretariat Sementara di Sebarus
Dalam pelaksanaannya, pengelola masih menghadapi keterbatasan sarana penyimpanan dan operasional. Buku-buku yang digelar di Kompleks Pemda Lampung Barat diangkut menggunakan sepeda motor menuju lokasi kegiatan.

Setelah kegiatan selesai, buku-buku tersebut disimpan di salah satu rumah pengurus di wilayah Sebarus yang saat ini difungsikan sebagai sekretariat sementara Lapak Baca Lambar.

Meski dengan fasilitas yang masih terbatas, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat pengelola untuk terus menghadirkan ruang baca yang mudah diakses masyarakat.

Pengelola berharap, dukungan dari berbagai pihak dapat membantu pengembangan Lapak Baca Lambar, baik dari sisi fasilitas, koleksi buku, maupun keberlanjutan program literasi.

Pengunjung Berharap Pertemuan Digelar Dua Kali Sepekan
Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, muncul pula harapan agar kegiatan Lapak Baca dapat dilaksanakan lebih rutin. Sejumlah pengunjung mengusulkan agar waktu kegiatan diperketat, dengan frekuensi pertemuan minimal dua kali dalam sepekan.

Menanggapi aspirasi tersebut, Bagus mengatakan bahwa pengelola sebenarnya telah merencanakan pengembangan kegiatan yang tidak hanya berfokus pada aktivitas membaca, tetapi juga mencakup review book, diskusi buku, hingga bedah buku.

Program-program tersebut diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, melatih kemampuan berbicara di depan orang lain, serta mengasah pola pikir kritis melalui pertukaran ide dan sudut pandang.
“Harapan kami, Lapak Baca ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Kami ingin kegiatan ini berkembang menjadi ruang belajar bersama, tempat orang bisa bercerita tentang buku yang dibaca, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan melatih keberanian berbicara serta kemampuan berpikir kritis,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan Lapak Baca tidak semata-mata diukur dari banyaknya pengunjung atau jumlah buku yang dibaca, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan tersebut mampu menumbuhkan kebiasaan membaca dan membangun budaya diskusi di tengah masyarakat.

“Jangan sampai Lapak Baca hanya menjadi kegiatan seremonial. Kami ingin ada proses, interaksi, dan manfaat yang benar-benar dirasakan oleh para pengunjung,” tambahnya.

Membangun Budaya Literasi dari Ruang Sederhana
Kehadiran Lapak Baca Lambar menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan ruang literasi yang terbuka bagi masyarakat. Melalui penyediaan buku, layanan peminjaman, serta kegiatan berbagi dan berdiskusi, pengelola berupaya menjadikan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.

Dengan meningkatnya jumlah pengunjung pada pekan kelima dan mulai tumbuhnya interaksi melalui program review book, pengelola berharap Lapak Baca Lambar dapat terus berkembang menjadi ruang belajar bersama yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan.

Ke depan, penguatan program serta peningkatan frekuensi pertemuan diharapkan mampu memperluas jangkauan kegiatan, sehingga budaya literasi tidak hanya tumbuh melalui kebiasaan membaca, tetapi juga melalui kemampuan memahami, mengolah, dan menyampaikan gagasan. (DELPAN)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *