JUSTICIA

Ribuan Ikan di Situ Citongtut Desa Cicadas Mati Tercemar Limbah Dari 21 Pabrik ?

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika

BOGOR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menelusuri peristiwa ribuan ikan mati di Situ Citongtut, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, yang diduga akibat pencemaran lingkungan dari 21 perusahaan yang dilintasi anak sungai mengalir ke situ tersebut.

“Iya ini sedang diselidiki karena problemnya itu anak-anak sungai berada di bawah pabrik perusahaan itu, pembuangannya dari mana gitu sedang diselidiki dulu,” ujar Teuku Mulya, Minggu, (25/01/26). 

”Di area Situ Citongtut terdapat 21 perusahaan, bahkan pabrik itu dilintasi anak sungai yang mengalir ke situ tersebut. Karena anak sungai itu mengalir langsung masuk ke salah satunya situ itu, jadi pembuangan-pembuangan limbah mana sebenarnya ke situ, ini kita lagi selidiki,” jelasnya.

Teuku Mulya juga menjelaskan anak sungai tersebut berada di bawah pabrik-pabrik tersebut sehingga perlu penelusuran lebih lanjut. Meski demikian, Teuku mengklaim saat ini Situ Citongtut kembali normal dan masyarakat sudah kembali beraktivitas.

Teuku Mulya

Namun, pihaknya akan terus mencari tahu penyebab matinya ikan diduga akibat pencemaran lingkungan. Kata Teuku hari ini air situ sudah jernih kembali, warga sudah aktivitas lagi, bahkan sudah mancing lagi.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, Video ikan-ikan mendadak mati di Situ Citongtut, Kecamatan Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, beredar di media sosial. Ikan-ikan tersebut tampak mengambang di situ.

Dalam video yang dilihat, Sabtu (24/1/2026), air situ tampak berwarna pekat. Ikan yang mati bukan hanya di area situ, melainkan hingga ke area saluran air.

Yayan Buduayana

Dinarasikan bahwa ikan-ikan yang mati itu berjenis sapu-sapu. Masih dalam narasi yang sama, kematian ikan-ikan tersebut dikaitkan dengan dugaan pencemaran pabrik di sekitar situ.

Kematian misterius ikan-ikan tersebut menyisakan tanda tanya. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor telah mengerahkan tim untuk menelusuri.

Dalam video yang beredar memperlihatkan berbagai jenis ikan mati massal mengambang di permukaan air. Bahkan ikan sapu-sapu yang terkenal memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat pun menyerah dalam konsidi ini.

Penyebab fenomena mengertikan itupun hingga kini belum diketahui secara pasti dan masih menjadi teka-teki. Dalam video lainnya, nampak sejumlah relawan sedang membersihkan bangkai ribuan ikan tersebut karena baunya tak sedap mengganggu warga sekitar.

Merespons hal itu, Pemerintah Kabupaten Bogor akan menindaklanjuti kejadian yang tak biasa tersebut. Ia pun menginstruksikan kepada dinas terkait untuk turun ke lapangan melakukan pengecekan langsung.

“Kita tindaklanjuti, sudah saya perintahkan untuk cek dan recheck,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika kepada wartawan, Senin (26/1/2026).

Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Bogor menilai kematian ribuan ikan sapu-sapu di Setu Citongtut, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, mengindikasikan adanya gangguan lingkungan yang berada di luar batas kemampuan biologis perairan.

Ketua Tim Pengawas Sumber Daya Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap Diskanak Kabupaten Bogor, Yayan Buduayana, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu merupakan salah satu jenis ikan yang kerap dijadikan indikator pencemaran di suatu perairan.

“Kalau di perairan itu ikan-ikan lain sudah mati, biasanya ikan sapu-sapu masih tahan. Kebanyakan ikan mati karena kekurangan oksigen,” ujarnya kepada awak media, Senin 26 Januari 2026.

Menurutnya, kematian ikan secara massal sering kali dikaitkan dengan kekurangan oksigen, misalnya akibat kekeruhan air karena hujan dan debit air yang besar. Namun, kondisi tersebut umumnya masih dapat ditoleransi oleh ikan sapu-sapu.

“Kalau matinya sekadar karena kekurangan oksigen, biasanya ikan sapu-sapu masih tahan. Ikan sapu-sapu disimpan di luar air selama 30 jam saja masih bisa hidup, dan ketika diberi air sedikit bisa hidup kembali. Kemungkinan ada faktor lain oksigen yang menyebabkan kematian ikan” katanya.

Ketika ikan sapu-sapu ikut mati, Yayan menilai kondisi perairan tersebut sudah berada di luar batas biologis ikan. Ia menyebutkan, Diskanak belum dapat memastikan secara rinci kondisi lingkungan apa yang menjadi penyebab utama.

Namun, faktor tersebut berada di luar persoalan oksigen terlarut dan menunjukkan adanya gangguan lingkungan yang belum teridentifikasi. Dari sisi perikanan, Diskanak terlebih dahulu memastikan apakah kematian ikan disebabkan oleh serangan penyakit ikan atau faktor lingkungan.

“Ada beberapa penyakit ikan, seperti Aeromonas maupun Koi Herpes Virus (KHV), juga dapat menyebabkan kematian ikan. Kalau karena penyakit, kematian ikan biasanya terjadi secara bertahap, bisa dalam empat hari hingga satu minggu,” jelas Yayan.

“Tapi kalau karena faktor lingkungan, seperti kekurangan oksigen atau perubahan kondisi air yang ekstrem, kematian bisa terjadi dalam waktu singkat dan langsung massal. Kami juga melakukan pengecekan kondisi fisik perairan, termasuk di area inlet, untuk melihat perbedaan sumber aliran air,” pungkasnya.(Ahp)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *