RAGAM

Ugal-Ugalan di Jalan, Nyawa Jadi Taruhan: Angkot Cibinong–Cileungsi Kembali Tuai Sorotan

BOGOR— Wajah transportasi publik di Kabupaten Bogor kembali tercoreng. Perilaku sejumlah sopir angkutan kota (angkot) jurusan Cibinong–Cileungsi menuai kecaman keras dari masyarakat. Alih-alih menghadirkan rasa aman, para sopir justru diduga mengemudi secara ugal-ugalan, seolah mempertaruhkan nyawa penumpang di setiap perjalanan.

Berdasarkan pantauan di lapangan serta derasnya keluhan warga, aksi kebut-kebutan hingga saling salip tanpa perhitungan menjadi pemandangan yang nyaris lumrah. Tak jarang, sopir berhenti mendadak di sembarang titik demi mengejar setoran, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan.

“Sering kali sopir ngebut dan rem mendadak, penumpang sampai terhuyung. Belum lagi cara bicaranya yang kasar,” ungkap seorang penumpang yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Lebih dari sekadar cara berkendara yang membahayakan, persoalan etika pelayanan pun turut disorot. Beberapa sopir disebut kerap bersikap arogan, membentak penumpang, bahkan enggan menurunkan penumpang di tempat yang seharusnya. Situasi ini mencerminkan rendahnya standar pelayanan dalam transportasi publik yang seharusnya mengedepankan kenyamanan dan keselamatan.

Kondisi ini menjadi semakin ironis karena dinilai berlangsung tanpa pengawasan dan penindakan tegas dari pihak terkait. Padahal, keselamatan penumpang adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dalam layanan transportasi umum.

Pengamat hukum, Uci Sanusi S.H, CPLA., menegaskan bahwa lemahnya pengawasan menjadi akar persoalan yang terus berulang. “Jika dibiarkan, ini bisa menjadi bom waktu. Nyawa manusia dipertaruhkan setiap hari di jalan,” tegasnya dengan nada serius.

Desakan pun menguat dari masyarakat. Mereka meminta kepada Dadang selaku Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, beserta jajaran dan aparat Kepolisian dari Ditlantas Polres Bogor, untuk segera turun tangan.

Langkah tegas dinilai mendesak untuk dilakukan, mulai dari penertiban di lapangan, pembinaan terhadap sopir, hingga pencabutan izin operasional bagi yang terbukti melanggar. Tanpa tindakan nyata, pelanggaran serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan berpotensi memakan korban jiwa.

Transportasi publik seharusnya menjadi solusi mobilitas masyarakat, bukan justru berubah menjadi ancaman di jalanan. Kini, semua mata tertuju pada keseriusan pihak berwenang—akankah mereka bertindak sebelum tragedi benar-benar terjadi? (ADS)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *