RAGAM

Malam Reflektif di Klapanunggal: Diskusi “Setelah Sumpah Lalu Apa?” Bahas Alam, Tambang, dan Harapan Baru Desa

BOFOR — Jumat malam (31/10), Dalam suasana gerimis yang menyejukkan, Karang Taruna Desa Klapanunggal menggelar acara bertajuk “Gatotkaca: Setelah Sumpah Lalu Apa?” di Kedai Kopi Café, Desa Klapanunggal, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.
Acara yang dikemas santai ini menjadi wadah refleksi dan dialog antara pemuda, akademisi, dan pemerintah desa untuk membahas masa depan lingkungan setelah aktivitas pertambangan.

Meski hujan turun di luar café, semangat peserta tetap hangat. Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara, di antaranya:

  • Prof. Dr. Cahyo Rahmadi, Kepala Bidang Zoologi LIPI dan Peneliti BRIN
  • Mohamad Shohibuddin, M.Si, Dosen Ekologi Manusia IPB dan Ketua Dewan Pengurus Sajogyo Institute
  • Ade Endang Saripudin (Kades Gonon), Kepala Desa Klapanunggal
  • Fahmi, perwakilan Gema Belantara
  • Adilah Rahman, perwakilan Gatotkaca

Turut hadir pula Danton Linmas Abdul Rahmat**, Ketua Karang Taruna Rey Kartun, serta pemuda dan pemudi Desa Klapanunggal.

Dalam diskusi tersebut, Prof. Dr. Cahyo Rahmadi menyoroti pentingnya menemukan solusi inovatif dan berkeadilan antara kebutuhan industri tambang dan pelestarian alam.

“Kita tidak bisa hanya menolak atau menerima tambang begitu saja. Yang dibutuhkan adalah cara baru — agar sumber daya bisa dimanfaatkan, tapi lingkungan tetap lestari,” ujarnya dengan penuh semangat di hadapan para peserta.

Topik utama yang diangkat adalah bagaimana menggali potensi wisata alam pasca tambang, serta mendorong reboisasi dan konservasi lingkungan di wilayah Klapanunggal yang kaya potensi geologi dan ekowisata.

Dalam kesempatan itu, Kepala Desa Klapanunggal, Ade Endang Saripudin (Kades Gonon), menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para narasumber dan para pemuda desa.
Ia menegaskan bahwa pemerintah desa terus berupaya mengubah wajah Klapanunggal menjadi desa wisata alam yang berkelanjutan.

“Terima kasih kepada Prof. Cahyo, Iqbal Willyanto, dan teman-teman semua. Wawasan yang diberikan malam ini sangat berarti.
Wisata Goa Pocong yang sedang kita kembangkan bukan hanya untuk ekonomi desa, tapi juga sebagai simbol pelestarian alam Klapanunggal,” ujar Kades Gonon dengan nada hangat.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini pembangunan akses jalan menuju Goa Pocong sedang dilakukan, dan akan dilanjutkan dengan peningkatan sarana wisata serta perlindungan lingkungan sekitar goa.

Acara yang diprakarsai oleh Karang Taruna Desa Klapanunggal ini menjadi contoh nyata bahwa pemuda desa memiliki peran penting dalam pembangunan berkelanjutan.
Selain berdiskusi, para peserta juga saling bertukar ide tentang upaya reboisasi dan pengembangan wisata edukatif berbasis konservasi.

“Kami ingin bukan hanya bicara, tapi juga bertindak. Karang Taruna siap menjadi motor pelestarian alam Klapanunggal,” ujar Rey Kartun, Ketua Karang Taruna, di akhir acara.

Kegiatan “Gatotkaca: Setelah Sumpah Lalu Apa?” ditutup dengan refleksi ringan sambil menyeruput kopi hangat.
Dalam suasana sederhana, acara ini meninggalkan pesan kuat: pembangunan tidak harus merusak, dan pemuda desa mampu menjadi pelopor perubahan.

“Gerimis malam ini seperti doa. Bahwa alam yang sempat terluka, perlahan akan sembuh—asal kita mau menjaganya bersama,” ungkap salah satu peserta.(Agung DS)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *