RAGAM

Lagi, Warga Marbu ll Diserang Gerombolan Lalat

Rambutan-Lagi, serangga yang menjijikkan membuat jengkel warga RT 06 Dusun Marbu ll, Desa Tanjung Marbu Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin. Gerombolan lalat ini membuat tidak nyamanan warga yang tengah beristirahat dirumah.

Ribuan lalat berterbangan di rumah-rumah warga. Wabah lalat ini diakibatkan oleh ulah para toke ayam pedaging dan petelur yang memanfaatkan desa setempat sebagai tempat peternakan ayam.

Puluhan kandang ayam petelur dan pedaging di bangun di wilayah desa itu. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari pemukiman penduduk. Setiap ayam potong sudah bisa dipanen dalam hitungan 35-40 hari. Setelah itu maka kandang ayam tersebut kembali di isi dengan anak-anak ayam. Dan pemilik kandang ayam tak membersihkan kandang ayam dengan anti lalat.

Akibatnya, lalat-lalat yang ada di kandang ayam tersebut berpindah dan hinggap di rumah-rumah penduduk setempat. Lalat-lalat itu bahkan bisa menyebar hingga radius 2 kilometer. Bisa dibayangkan, setiap jengkal tanah di desa itu menjadi tempat bagi kandang ayam petelur dan pedaging.

“Kalau lagi panen ayam, lalat dari kandang ayam itu seluruhnya pindah ke rumah-rumah warga di sini. Kita usir atau kita kasih racun lalat juga percuma, karena lalatnya terus berdatangan,” kata Jum, warga RT 06 Dusun Marbu ll dalam perbincangan dengan media ini, Jumat 22 Juli 2022.

Masyarakat di desa itu sebenarnya sudah sangat resah dengan ulah para toke ayam pedaging dan petelur di desa itu. Pemilik kandang ayam tersebut sebenarnya adalah mayoritas adalah toke ayam dari Kota Palembang. Masyarakat desa setempat sudah sejak lama menjadi permainan nakal para toke ayam.

“Toke ayamnya itu enak-enakan meraup untung. Kami masyarakat yang harus menanggung lalat setiap kali mereka panen. Musim panen ayam seperti ini, rumah kita penuh dengan lalat,” kata salah seorang warga setempat lainnya menimpali.

Kondisi rumah dan warung yang penuh dengan lalat ini sebenarnya sangat meresahkan warga. Sudah sejak lama warga setempat memprotes banyaknya kandang peternakan ayam petelur dan pedaging di desa itu. Namun warga tak kuasa, rupanya beberapa oknum warga dan salah seorang oknum ketua adat di desa setempat dimanfaatkan oleh para toke ayam sebagai beking.

“Sebenarnya sudah banyak masyarakat yang protes atas kandang ayam itu. Tapi warga yang protes malah didatangi oleh beberapa orang oknum,” kata warga setempat lainnya.

Kondisi bertebaran lalat ini sudah dirasakan warga dusun marbu ll dalam kurun waktu cukup lama. Anehnya, tidak ada anggota BPD dan kepala dusun yang mau bertindak untuk menutup kandang peternakan ayam di dusun itu malah justru ikut menikmati upeti bulanan dari para toke ayam di dusun itu.

“Cepat atau lambat, jika kesabaran warga sudah habis, persoalan ini akan berujung ke pengadilan,” kata warga lainnya.

Kepala Desa Tanjung Marbu, Eeng, mengatakan tidak ada kandang ayam di desanya yang sedang panen ayam. “Kalu yang panen di jalan tikungan antara sako dengan merbu, tapi bukan wilayah merbu, wilayah sako,” kilahnya.

ADENI ANDRIADI

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *