Kamis, 24 Juni 2021
Home / PROFILE / Trimoelja D. Soerjadi, advokat pedesaan

Trimoelja D. Soerjadi, advokat pedesaan

Terngiang kembali ucapan sosok advokat langka di Tanah Air tercinta Indonesia. Sosok yang bangga menyebut dirinya ‘advokat pedesaan’ itu tak lain adalah almarhum Trimoelja Darmasetia Soerjadi. Tepat setahun silam hukumonline mendapatkan kesempatan berharga mewawancarai Pak Tri—begitu ia akrab disapa—secara khusus di kantor hukumnya di Surabaya. Wawancara khusus itu sekaligus menjadi perpisahan karena beberapa bulan kemudian Pak Tri tutup usia pada usia 79 tahun.

Entah apa yang akan diucapkan Pak Tri ketika faktanya daftar advokat yang ditangkap OTT KPK kian panjang. Belakangan, seorang advokat muda berusia 20-an yang baru dua tahun diambil sumpah sebagai advokat pun menjadi tersangka dalam OTT KPK. Ini belum termasuk para advokat yang terseret pusaran hitam kasus kliennya hingga berujung sama-sama duduk di kursi pesakitan.

Dunia hukum Indonesia semakin merindukan sosok teladan semacam Pak Tri. Salah satu yang layak dikenang dari sosoknya adalah kebersahajaan. Ia dikenal sebagai advokat yang menangani kasus-kasus yang menarik perhatian publik. Kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah salah satunya. Kasus pembunuhan ini menjadi perhatian nasional dan internasional karena memperlihatkan represi kekuasaan terhadap aktivitas gerakan buruh.

Kali lain, Trimoelja menunjukkan komitmennya untuk membela kasus-kasus yang menimpa kalangan pers. Ia, misalnya, menjadi pengacara yang mengadvokasi gugatan terhadap keputusan Menteri Penerangan Harmoko. Sebaliknya, ia tak menolak mewakili tentara untuk menggugat media massa. Kasus Ahok menjadi kasus besar terakhir yang ditanganinya.

Puluhan tahun menjadi advokat, banyak di antara perkara yang ditanganinya tanpa honorarium. Di lain waktu, silih berganti pula datang klien yang siap membayar mahal asalkan kasusnya pasti menang. Namun jawaban Pak Tri tegas, “Maaf, Aanda bukan butuh lawyer semacam saya, cari saja lawyer lain.”

Seorang advokat junior pernah mengeluhkan sikap Trimoelja yang acapkali pilah pilih kasus dan banyak memberi layanan pro bono. Advokat junior itu mengatakan akan sulit ‘makan’ (mendapatkan nafkah) kalau meniru cara-cara Trimoelja. Kepada advokat junior, Trimoelja mengatakan bahwa sudah ada yang mengatur rezeki. “Rezeki datangnya dari Allah. Kalau kita di jalan yang lurus, semuanya apa  yang kita dapat itu kan barokah,” ujarnya.

Ini bukan berarti Trimoelja selalu berkecukupan sehingga tak membutuhkan uang ketika menjalankan profesi advokat. Dalam wawancara dengan Hukumonline, ia mengaku pernah mengalami krisis keuangan luar biasa. Berbulan-bulan tak ada perkara yang datang untuk menjadi sumber pemasukan. “Jangan dikira perjalanan saya sebagai advokat itu mulus. Pernah dua kali saya krisis keuangan. Ember itu ibaratnya sudah kelihatan dasarnya,” kenangnya.

Nyatanya Pak Tri terus mampu bertahan dengan idealismenya. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, ia menolak ketika diajak membuka kantor di Jakarta. Kantor sederhana yang dirintis di kampung halamannya terasa lebih menyenangkan. Kantornya di Jalan Embong Sawo No. 16 Surabaya terbilang sederhana untuk advokat sekaliber Trimoelja D Soerjadi. Kantor ini berupa dua bangunan berbentuk rumah satu lantai yang berdempetan.

Halamannya cukup luas dengan pagar bercat kombinasi warna merah dan putih. Namun hanya terparkir sebuah mobil ford hitam dan dua buah sepeda motor di sana. Gambaran soal kantor Trimoelja runtuh total saat memasuki pintu salah satu bangunan rumah yang tertempel tulisan jam buka dan tutup kantor. Hanya ada dua buah meja kerja di ruangan yang juga berfungsi sebagai ruang tunggu. Pengakuan Trimoelja, selain satu orang sekretarisnya yang menyambut, hanya ada tiga advokat lain yang membantunya di kantor ini.

 “Rumah keluarga, belum dibagi waris,” kata Trimoelja menjelaskan ihwal gedung kantornya saat wawancara berlangsung. Bangunan ini adalah rumah keluarganya sejak tahun 1953 tinggal di Jalan Embong Sawo.

Kesederhanaan kantornya tak menurunkan martabat dan prestasi kepengacaraan yang telah dibangun Pak Tri sejak puluhan tahun lalu. Sejarah mencatat banyak kasus yang sudah ditanganinya. Filosofi hidupnya dalam menjalankan profesi advokat begitu sederhana namun begitu agung.

“Filosofi saya, saya harus bekerja dalam koridor kode etik dan peraturan perundang-undangan. Saya adalah penegak hukum. Makanya saya katakan saya tidak akan pernah memberi nasihat dan belum pernah memberi nasihat kepada klien untuk tidak memenuhi panggilan (aparat penegak hukum lain),” ujarnya.

Di penghujung tahun 2018 yang masih penuh catatan muram dunia hukum Indonesia, Pak Tri adalah sosok langka yang tepat untuk dikenang khususnya oleh para advokat. Sosok advokat teladan nan bersahaja yang jauh dari bau busuk suap, korupsi, dan menghalalkan segala cara. Pertanyaannya, akankah kita melihat kembali keteladanan yang serupa—jika sama persis sudah begitu sulit diharapkan—dari para advokat Indonesia?

About admin

Check Also

ATLIT GANTOLE ASLI BOGOR BERHARAP JADI PNS

Bogor – Sosok atlit satu ini tentu amat membanggakan dan patut diberi penghargaan.Bukan tanpa dasar,20 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *