Sabtu, 24 Juli 2021
Home / RAGAM / Tiada Hari Tanpa Limbah di Pedamaran

Tiada Hari Tanpa Limbah di Pedamaran

OKI-Limbah industri yang mengalir ke Sungai Komering, dari anak sungai Pedamaran mengakibatkan puluhan hektar sawah menjadi rusak. Imbasnya, hasil produksi gabah mengalami anjlok.

Cakok menggeber sepeda motor bebeknya pada suatu pagi awal Juni 2021 lalu. Dia membawa istrinya menuju salah satu sawah di Desa di Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (Sumsel).

Pasangan itu bekerja sebagai buruh tani sejak 10 tahun lalu. Mereka mengurusi sawah seluas 3500 meter persegi. Lahan itu bukan milik mereka. Keduanya bertugas menanam, merawat, dan memanen padi. Hasilnya mereka bagi dua dengan pemilik lahan.

Hasil panen padi di sana sudah tak sebaik dan sebagus periode 1998-an, sebelum pabrik PT Kelantan Sakti berdiri gagah di Pedamaran.

Kecamatan Pedamaran berdekatan dengan Kecamatan Kayuagung, anak sungai dari Pedamaran mengalir ke sungai Komering. Limbah pabrik PT Kelantan Sakti ditengarai tidak cuma mengalir ke sungai Pedamaran, namun juga mengalir ke sawah-sawah petani lokal.

“Dulu tahun 1998-an 1 hektar bisa panen 6 ton beras. Sekarang 4 ton beras saja sudah beruntung,” ujar Cakok, pada Kamis 17 Juni 2021.

Cakok menambahkan kualitas padi yang dipanen di lahannya juga tak sebaik dulu. Dulu kualitas beras di Pedamaran adalah salah satu beras unggulan.

Dia menilai gara-gara limbah pabrik, hasil produksi gabah di Pedamaran merosot. Para pengepul gabah pun tak mau membeli gabah dengan harga tinggi. Mereka hanya menawar dengan harga rendah.

“Masih ada yang beli, tapi harganya jatuh. Biasanya Rp 50 ribu per kaleng, tapi sekarang cuma Rp 40 ribu,” ungkapnya.

Keluarga Cakok di Kecamatan Pedamaran juga mengungkapkan hal serupa terkait soal limbah. Keluarga ini juga menanam padi dibeberapa tempat di desa itu.

Pada 2015, Cakok sudah mencoba menanam pohon buah-buahan. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil yang maksimal.

“Padi di sawah di desa ini bisa tumbuh. Tapi hasilnya tidak memuaskan. Buahnya tidak begitu lebat seperti dulu,” kata Ruslan.

Warga Kecamatan Pedamaran lainnya Gilik mengatakan limbah pabrik mengotori sumber air bersih di lingkungannya. Dia mengatakan air sungai diwilayah itu sudah tidak bisa lagi diminum.

Rata-rata warga di sekitar sungai di sini membeli air galon untuk keperluan memasak dan minum. Sementara untuk mandi dan kegiatan mencuci, warga masih mengunakan air sungai. Tapi kalau mau bening harus disaring dulu.

“Semua warga di sini membeli air galon,” tuturnya.

Laporan Dewan Pimpinan Pusat Forum Keadilan Rakyat Indonesia pada 2021 menemukan limbah industri yang mencemari sungai Pedamaran dan merusak puluhan hektare sawah. Kondisi sungai Pedamaran masuk dalam kategori sungai tercemar berat. Dampak limbah juga terjadi pada sawah dan sumur milik warga setempat.

Pekan lalu, hasil penelusuran Tipikor Investigasi.com dan Dewan Pimpinan Pusat Forum Keadilan Rakyat Indonesia menemukan beberapa perusahaan diduga membuang limbahnya ke sungai Komering. Salah satunya, melalui anak-anak sungai di Kecamatan Pedamaran.

Keluhan warga di Kecamatan Pedamaran memang bukan sekedar pepesan kosong. Tipikor Investigasi.com pun meminta keterangan dari salah satu pegawai perusahaan industri kelapa sawit di Kabupaten OKI, PT Kelantan Sakti terkait dengan dugaan pencemaran.

Ia mengatakan pihak PT Kelantan Sakti mengakui ada lahan yang tercemar di Kecamatan Pedamaran. Namun ia meminta agar namanya tidak disebutkan oleh wartawan.

“Perusahaan ini belum memiliki standar pengelolaan limbah yang baik. Perusahaan telah mengelontorkan dana tiap bulan untuk mengelola limbah. Tapi hasilnya nihil,” ungkapnya.

“Buat saya secara pribadi terus terang persoalan ini sudah terjadi sejak lama,” katanya. Perusahaan ini adalah eksportir,” tambahnya.

“Anda tahu tidak concern-nya orang Eropa terkait lingkungan? Bagaimana kalau produk kita bisa mereka beli kalau mereka tahu kita mencemari lingkungan?” ujarnya.

Hasil temuan soal pencemaran lingkungan oleh PT Kelantan Sakti bisa jadi benar. Artinya, Sungai Pedamaran dan Sungai Komering sudah bertahun-tahun dibebani dengan berbagai macam limbah.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Forum Keadilan Rakyat Indonesia Ansori AK mengatakan, daya dukung Sungai Pedamaran sudah jauh berkurang. “Kasus pencemaran lingkungan di Kecamatan Pedamaran, secara kasat mata saja daya dukung sudah menurun karena air alamiah enggak ada,” kata Ansori AK, pekan lalu.

Ia mengingatkan soal aliran limbah pabrik yang menggenangi anak-anak sungai di Kecamatan Pedamaran sebagai sumber air warga. Baik secara langsung maupun merembes.

SANGKUT

About admin

Check Also

Pengusaha di balik Calon

OKI-Pengakuan salah satu tim sukses dari nomor urut tiga (3) calon kepala desa muara batun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *