Monday, 17 January 2022
Home / NASIONAL / Semeru Erupsi, Satu Tewas, 41 Luka-Luka, Jembatan Runtuh, Warga Terisolasi

Semeru Erupsi, Satu Tewas, 41 Luka-Luka, Jembatan Runtuh, Warga Terisolasi

LUMAJANG-Satu orang tewas dan 41 orang mengalami luka bakar saat Gunung Semeru mengalami erupsi, Sabtu 4 Desember 2021 sore.

Warga terlihat berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri saat asap tebal dari gunung semeru mengepul keudara.

Beberapa orang saksi mata mengatakan sejumlah desa diselimuti abu vulkanik dengan suasana langit gelap.

Wakil Bupati Lumajang mengatakan, satu orang meninggal dunia dan 41 orang warga mengalami luka bakar serius.

Evakuasi belum dilakukan karena terkendala tebalnya lumpur disekitar lokasi ditempat warga yang ditemukan meninggal dunia.

Ia mengatakan, jika cuaca memungkinkan, ada helikopter yang bisa digunakan untuk memantau masyarakat yang terjebak karena ia mengaku kesulitan.

“Kasihan, warga menangis semua karena ada sekitar delapan hingga 10 orang yang masih terjebak di lokasi bencana. Barang kali ada heli yang bisa memantau,” kata Indah, Sabtu 4 Desember 2021.

Upaya evakuasi terhambat oleh tebalnya asap, putusnya aliran listrik dan hujan dengan intensitas tinggi selama erupsi mengakibatkan kondisi jalan berlumpur.

Puluhan warga yang bermukim disekitar kawasan yang terdampak parah akibat banjir lahar, diketahui terisolasi karena jembatan penghubung runtuh. Beberapa orang saksi mata mengatakan, jembatan Perak di Kecamatan Candi Puro putus karena diterjang banjir lahar.

Dikhawatirkan runtuhnya jembatan yang menghubungkan Lumajang dan Kabupaten Malang itu akan kian mempersulit upaya pertolongan kepada warga setempat.

“Jembatan Perak di Kecamatan Candi Puro, putus,” kata Jon Warouw, guru SD Sumber Rejo, Lumajang.

Diketahui, dua Kecamatan Pronojiwo dan Candi Puro, adalah wilayah paling parah terdampak akibat erupsi dan banjir lahar dingin gunung semeru.

Gunung memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu diketahui mengeluarkan awan panas guguran (APG) pada Sabtu 4 Desember 2021.

“Jembatan dari Kota Malang menuju Lumajang sudah tidak bisa dilalui, putus,” kata Purwanto, warga Kota Lumajang.

Ada dua desa yang paling parah, kata dia, Desa Sumber Sari dan Desa Sumber Urip.

Satu kampung terisolasi, kampung Curug Koboan, akses jalan menuju ke arah sana tertutupi oleh aliran lahar,” kata dia.

Hingga Minggu 5 Desember 2021 dini hari, belum ada informasi resmi dari pihak pemerintah setempat mengenai adanya korban bertambah akibat erupsi.

Beberapa orang saksi mata di lokasi kejadian mengatakan, hujan bercampur lumpur merobohkan beberapa rumah milik warga,” kata Harry.

“Secara tiba-tiba, ada suara gemuruh dengan disertai suara letusan ‘dum, dum, dum’… Disertai aktivitas vulkanik dengan guguran awan panas yang terjadi sekitar pukul 15:15 WIB.

Gunung Semeru terletak di wilayah Lumajang dan Kabupaten Malang adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Getaran banjir lahar atau guguran awan panas tercatat mulai terjadi pada pukul 14:45 WIB dengan kecepatan amplitudo maksimal 20 milimeter.

Sekitar pukul 15:11 WIB, Pos Gunung Sawur melaporkan secara visual abu vulkanik dari guguran awan panas beraroma belerang sangat terlihat jelas mengarah ke Besuk Kobokan.

Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkap guguran lava pijar teramati dengan jarak luncur sekitar 500 hingga 800 meter dengan pusat guguran sekitar 500 meter dibawah kawah.

BNPB Kabupaten Lumajang mengeluarkan imbauan kepada masyarakat dan para penambang agar tidak beraktivitas di sepanjang Daerah Aliran Sungai Mujur dan Curah Kobokan.

BPBD Kabupaten Lumajang tengah mengupayakan mendirikan titik pengungsian di Desa Sumber Wuluh Kecamatan Candi Puro Kabupaten Lumajang.

Semeru memiliki catatan sejarah erupsi dan terekam sejak 1818. Menurut BNPB Kabupaten Lumajang, ada banyak informasi tentang catatan letusan Semeru pada 1818 hingga 1913 tapi tidak banyak informasi yang terdokumentasikan” kata kepala BNPB Kabupaten Lumajang, Abdul Muhari, Sabtu 4 Desember 2021.

Pada 1914 hingga 1942, aktivitas vulkanik terekam dengan durasi panjang. Menurut dia, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut, leleran larva terjadi pada 21 September 1941 hingga Februari 1942.

“Saat itu letusan di lereng sebelah timur mencapai ketinggian 1.400 meter hingga 1.775 meter. Bahkan, material vulkanik hingga menimbun pos pengairan Bantengan,” ungkapnya secara tertulis.

Sejumlah aktivitas vulkanik Semeru tercatat secara beruntun sejak 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1954, 1955-1957, 1958, 1959 dan 1960.

Dan terus berlanjut. “Gunung Semeru adalah termasuk salah satu gunung api aktif yang melanjutkan aktivitas vulkaniknya,” paparnya.

Pada Desember 1977, guguran lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak mencapai 10 kilometer di Besuk Kembar.

Volume endapan material vulkanik mencapai 6,4 juta M3. Awan panas mengarah ke wilayah Besuk Kobokan.

“Ketika itu, jembatan, rumah, dan sawah milik warga mengalami rusak para,” katanya. Aktivitas vulkanik tercatat terus berlanjut pada 1978-1989.

PVMBG mencatat, aktivitas vulkanik Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007, dan 2008. Pada 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yakni, pada rentang 15 Mei hingga 22 Mei.

“Pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.

Data dari PVMBG mengungkap, Gunung Semeru berada di kawah Jonggring Seloko. “Kawah ini berada di sisi tenggara puncak Mahameru. Gunung Semeru memiliki karakter letusan vulkanian dan strombolian yang terjadi 3-4 kali setiap jam,” tuturnya.

Karakter letusan vulkanian berupa letusan eksplosif dan dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya,” bebernya.

Karakter letusan strombolian biasanya, kata dia, akan terjadi pembentukan kawah dan lidah lava baru,” urainya.

TIM

Check Also

KEPSEK SMA 1 LEMONG DIDUGA PERINTAHKAN SATPAM TOLAK WARTAWAN

Peaisir Barat-Kepala sekolah menengah atas(SMA)1Lemong Nur Soraya diduga memberikan perintah kepada penjaga sekolah agar menolak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *