Monday, 17 January 2022
Home / JUSTISIA / Kasus Suap Paspor: Pejabat Supervisor Kantor Imigrasi Pekanbaru Dihukum 1,5 Tahun Penjara

Kasus Suap Paspor: Pejabat Supervisor Kantor Imigrasi Pekanbaru Dihukum 1,5 Tahun Penjara

Pekanbaru – Majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) Pekanbaru menjatuhkan vonis 1,5 tahun terhadap mantan pejabat supervisor/ ajudikator Kantor Imigrasi Pekanbaru, Krisna Olivia.

“Terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dalam dakwaan alternatif ketiga, dijatuhi hukuman 1 tahun dan 6 bulan,” kata ketua majelis hakim, Iwan Irawan SH saat membaca amar putusannya, Senin (25/10/2021

Selain dihukum penjara selama 1.5 tahun, hakim juga menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan penjara.

Hakim menyatakan terdakwa Krisna Olivia terbukti dakwaan alternatif ketiga yakni pasal 5 ayat 2 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Vonis hakim ini sama dengan tuntutan jaksa penuntut Kejari Pekanbaru yang meminta hakim menghukum terdakwa 1,5 tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp 50 juta. Dalam persidangan di pengadilan Tipikor PN Pekanbaru, jaksa meyakini terdakwa melanggar pasal 5 ayat 2 Undang-undang Tipikor junto pasal 55 KUHPidana.

Atas putusan majelis hakim tersebut, terdakwa maupun jaksa penuntut umum menyatakan pikir-pikir untuk 7 hari ke depan.

Vonis hakim tersebut sebenarnya jauh lebih ringan dari hukuman yang dijatuhkan kepada Wandri Zaldi yang merupakan pemberi suap pengurusan paspor. Wandri kala itu dituntut hukuman 3,6 tahun dan akhirnya divonis 2 tahun 3 bulan.

Terdakwa Krisna Olivia sudah ditahan oleh majelis hakim dalam persidangan 5 Oktober lalu. Sebelumnya, Krisna hanya dikenakan tahanan kota sejak penyidikan dan penuntutan.

Kasus suap paspor menjerat dua mantan pejabat dan pegawai Kantor Imigrasi Pekanbaru. Kedua terdakwa mantan pejabat dan pegawai Kantor Imigrasi Pekanbaru, yakni Krisna Olivia dan Salman Alfarisi.

Dalam surat dakwaan pada berkas terpisah, terdakwa Krisna Olivia yang merupakan bekas Supervisor di Kantor Imigrasi Pekanbaru didakwa menerima gratifikasi sebesar Rp 19.350.000,- dari Wandi Zaldi. Wandi adalah calo paspor yang sudah divonis bersalah dalam kasus tersebut sebagai pemberi suap.

Uang itu diberikan dalam posisi terdakwa sebagai pegawai Kantor Imigrasi Pekanbaru dalam penerbitan paspor VIP. Uang diterima melalui transfer secara berulang kali via rekening bank miliknya. Kini Krisna ditugaskan di Kanwil Hukum dan HAM Provinsi Riau.

Sementara, terdakwa Salman Alfarisi Hanafi adalah bekas Analis Keimigrasian di Kantor Imigrasi Pekanbaru. Ia didakwa menerima uang sebesar Rp 1.900.000,- juga dari Wandi Zaldi.

Perjalanan kasus kedua mantan pejabat dan pegawai Imigrasi Pekanbaru ini terbilang cukup panjang. Sejak kasus ini terungkap pada 9 Januari 2020 lalu, keduanya juga tidak dilakukan penahanan badan, baik di Polresta Pekanbaru maupun di Kejari Pekanbaru

Kasus ini terungkap dari penangkapan yang dilakukan Unit Pokja Pemberantasan Pungli Polresta Pekanbaru terhadap Wandri Zaldi yang merupakan Direktur PT Fadilah. Wandri diduga menjalankan bisnis percaloan paspor dengan label biro jasa.

Wandri sudah divonis bersalah dan saat ini sedang menjalani hukuman. Saat ditangkap, polisi menggeledahnya dan menemukan uang sebesar Rp 6.950.000 yang diduga merupakan sisa keuntungan Wandri dalam mengurus paspor.

Berkas perkara Krisna Olivia dan Salman Alfarisi sempat bolak balik antara Kejari Pekanbaru dengan Polresta Pekanbaru. Setelah lebih setahun tepatnya 23 Agustus 2021 lalu, barulah Kejari Riau menyatakan berkas perkara keduanya dinyatakan lengkap (P-21), hingga akhirnya dilimpahkan ke PN Pekanbaru pada pekan lalu.

Keduanya sejak ditetapkan sebagai tersangka hingga perkaranya dilimpahkan ke PN Pekanbaru tidak dilakukan penahanan badan. Keduanya justru ditetapkan sebagai tahanan kota pada awalnya oleh Polresta Pekanbaru

Mantan Kasipidsus Kejari Pekanbaru, Yunius Zega pernah menyatakan tidak ditahannya kedua tersangka karena saat proses penyidikan di Polresta, keduanya juga tidak ditahan. Zega juga beralibi kalau kedua tersangka kooperatif, tidak menghilangkan barang bukti, dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Sebut Nama Pejabat Imigrasi yang Lain

Kuasa hukum terdakwa tindak pidana korupsi (tipikor) pengurusan paspor di Kantor Imigrasi Pekanbaru menyebut ada nama baru dalam lingkaran kasus tersebut pada sidang Jumat (17/9/2021) lalu. Namun, saat nama pejabat imigrasi itu disampaikan, jaksa penuntut umum langsung mengajukan keberatan.

Saat sidang berlangsung, kuasa hukum terdakwa menanyakan kepada Wandi apakah mengenal seorang bernama Erwin. Diketahui kalau Erwin merupakan mantan Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Kota Pekanbaru. Dalam persidangan Selasa (14/9/2021) lalu, Erwin telah diperiksa sebagai saksi secara virtual. Sumber RiauBisa.com di Kantor Imigrasi Pekanbaru menyebut kalau Erwin sudah pindah tugas (mutasi) ke Maluku.

Apakah saudara saksi kenal dengan Erwin dan pernah memberikan sesuatu kepada Erwin?,” tanya kuasa hukum terdakwa kepada Waldi.

Erwin adalah atasan dari Krisna Olivia. Setingkat di bawah jabatan Erwin ada seorang bernama Wawan Setiawan. Wawan menjabat sebagai Kepala Sub Seksi Pelayanan Dokumen Perjalanan Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Pekanbaru. Ia juga sudah diperiksa sebagai saksi pada persidangan Selasa (14/9/2021) lalu. Dengan demikian, Erwin dan Wawan adalah atasan langsung terdakwa Krisna Olivia.

Pertanyaan kuasa hukum terdakwa belum sempat dijawab Waldi, jaksa penuntut umum Dewi Shinta Dame Siahaan dari Kejari Pekanbaru langsung memotong pertanyaan tersebut.

“Kami keberatan, Yang Mulia Hakim. Pertanyaan kuasa hukum terdakwa tidak relevan, Yang Mulia,” kata jaksa Dewi. (*)

Check Also

KEPSEK SMA 1 LEMONG DIDUGA PERINTAHKAN SATPAM TOLAK WARTAWAN

Peaisir Barat-Kepala sekolah menengah atas(SMA)1Lemong Nur Soraya diduga memberikan perintah kepada penjaga sekolah agar menolak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *