Saturday, 25 September 2021
Home / PENDIDIKAN / Hukum Melangkahi dan Duduk di Atas Kuburan

Hukum Melangkahi dan Duduk di Atas Kuburan

OKI-Ziarah kubur merupakan salah satu perkara yang diperbolehkan dalam Islam. Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadits menyinggung fungsi berziarah, yakni agar orang-orang mengingat kematian dan akhirat.

Dalam melakukan ziarah kubur, seorang muslim tetap harus memperhatikan dan menjaga adab. Acap kali, adab itu lalai dijalankan saat seseorang mengunjungi makam.

Misalnya, duduk diatas kuburan, bersandar, dan berjalan melangkahinya. Dalam kitab yang berjudul Figh as-Sunnah, Sayyid Sabiq Muhammad at-Tihamy menjelaskan adab ziarah kubur.

Ulama Al-Azhar, Kairo, Mesir, itu menegaskan, haram hukumnya duduk di atas kuburan, bersandar, dan berjalan di atasnya.

Kesimpulan ini merujuk pada suatu hadits sahih, yang diriwayatkan dari Amar bin Hazim. Suara ketika, Amar melihat Nabi Muhammad Saw duduk bersimpuh di samping makam, lalu beliau bersabda, “Jangan sakiti penghuni makam ini.”

Hadist lain diriwayatkan Abu Hurairah. Rosulullah SAW bersabda, “Salah seorang kamu duduk di atas batu api hingga pakaiannya terbakar sampai ke kulitnya. Itu lebih baik baginya daripada dia duduk di atas kubur, (HR Muslim).

Sayyid Sabiq menjelaskan, penegasan kehormatan duduk di atas kuburan, bersandar, dan berjalan di atasnya merupakan pendapat Ibn Hazim. Ini karena disertainya ancaman dalam riwayat hadits itu. Generasi salaf, seperti Abu Hurairah, juga mengalami pendapat tersebut.

Sementara, mayoritas ulama berpendapat hukum duduk di atas kuburan, bersandar, dan berjalan di atasnya adalah makruh.

Imam an-Nawawi menukilkan pernyataan Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm. Dijelaskan bahwa mayoritas ulama madzhab berpandangan, jika duduk di atas kuburan, bersandar, dan berjalan di atasnya hukumnya makruh.

Makruh yang dimaksudkan di sini adalah makruh tanzi. Artinya, makruh dengan maksud menjaga kehormatan dan adab, sebagaimana istilah yang kerap digunakan para ulama. Di antara yang berpandangan demikian antara lain an-Nakha’i, Laits, Ahmad, dan Dawud.

Sayyid Sabiq lantas menjelaskan bahwa ada Abdullah bin Umar, Abu Hanifah, dan Malik yang memperbolehkan duduk di atas makam. Di antara alasan kebolehannya itu adalah seperti yang disampaikan Imam Malik dalam kitabnya al-muwattha, barangkali seseorang yang duduk diatas kuburan itu hendak menunaikan hajatnya. Entah buang air kecil atau buang air besar.

Untuk memperkuat pendapatnya itu Imam Malik menyertakan sebuah hadist dhaif. Namun, bagi imam Ahmad, pendapat tersebut dapat disanggah. Sebab, hal itu dianggap memberikan takwil yang salah.

Demikian juga pendapat yang terakhir ini dibantah Imam an-Nawawi. “Takwil ini atau tentang bolehnya duduk di atas makam adalah lemah dan batil. Oleh Ibnu Hazam juga di sanggah dengan beberapa alasan.”

Sayyid Sabiq menjelaskan perbedaan ini muncul jika duduk itu dimaksudkan selain kepentingan buang hajat. Jika memang duduk tersebut bertujuan untuk buang hajat, para ulama sepakat haram.

Sayyid Sabiq juga menjelaskan, para ulama sepakat boleh melangkahi makam dengan catatan darurat. Jika tidak ada alasan darurat, maka hukumnya adalah haram.

TIM

Check Also

SMAN 4 KOTA BOGOR LAKUKAN VAKSIN

Bogor – Langkah dan dukungan percepatan vaksinasi ditingkat sekolah Sesuai arahan presiden dilakukan di Kota …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *